BMKG Tanggapi Langit Merah Jambi

CNN Indonesia | Senin, 23/09/2019 12:45 WIB
BMKG Tanggapi Langit Merah Jambi Ilustrasi. (AP Photo/Fauzy Chaniago)
Jakarta, CNN Indonesia -- Belum lama ini ramai beredar video yang menunjukkan langit Jambi yang berubah kemerahan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merespons fenomena tersebut melalui cuitan di akun Twitter resmi @InfoHumasBMKG pada Minggu (22/9).

Video yang beredar tersebut dikelaskan berlokasi di Kabupaten Muaro Jambi yang berjarak sekitar 35 km dari Kota Jambi. BMKG menyebut, langit yang menjadi kemerahan ini disebabkan oleh hamburan mie atau Mie Scattering.

Istilah tersebut berarti hamburan sinaran matahari oleh partikel mengapung di udara yang berukuran kecil (aerosol).
"Mie scattering terjadi jika diameter aerosol dari polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak (visible) matahari. Panjang gelombang sinar merah berada pada ukuran 0,7 mikrometer," tulis BMKG.


Dari hasil analisis citra satelit Himawari-8 pada Sabtu (21/9) lalu, terdapat banyak titik panas dan sebaran asap yang tersebar di sekitar Muaro Jambi.

Menurut BMKG, wilayah lain yang juga terdampak Karhutla tampak berwarna kecokelatan dari satelit. Namun, kondisi di Muaro Jambi menunjukkan warna putih atau berarti terdapat lapisan asap yang sangat tebal.

Konsentrasi debu partikulat polutan berukuran lebih kecil dari 10 mikrometer (μm) sangat tinggi di sekitar Jambi, Palembang & Pekanbaru. Namun langit menjadi merah disebabkan oleh partikulat dominan berukuran lebih dari 0,7 μm. Sementara mata manusia hanya dapat melihat para spektrum visible yakni 0,4 hingga 0,7 μm.
Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo Soetarno juga mengatakan, warna merah tersebut disebabkan pula oleh titik api atau hotspot yang sangat banyak.

"Ini data tadi pagi di Muaro Jambi, terjadinya hotspot 430 yang validitasnya di atas 80 persen. Jadi memang di sana banyak sekali titik api," kata Agus kepada CNNIndonesia.com, Minggu (22/9).

Sebelumnya, BMKG mencatat pada karhutla yang terjadi pada 2015 di Palangkaraya juga menyebabkan hal yang serupa. Hanya saja langit tidak sampai berubah menjadi merah melainkan oranye. Hal tersebut berarti ukuran debu partikel polutan (aerosol) saat itu dominan lebih lebih halus daripada yang terjadi di langit Muaro Jambi kali ini. (ndn/age)


ARTIKEL TERKAIT