BMKG Konfirmasi Hoaks Gempa Besar dan Tsunami Ambon

din, CNN Indonesia | Jumat, 27/09/2019 14:55 WIB
BMKG Konfirmasi Hoaks Gempa Besar dan Tsunami Ambon Kerusakan akibat gempa bumi Ambon, Kamis (26/9). (Foto: AISYAH PUTRI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa besar dan tsunami di Ambon, Teluk Piru, dan Saparua sebagai kabar hoaks.

Deputi bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly mengatakan kabar tersebut sebagai hoaks. Mengingat hingga kini belum ada teknologi yang bisa memprediksi gempa bumi dengan tepat, akurat, kapan, di mana, dan kekuatannya.

"Terkait dengan isu yang akan terjadi gempa besar dan tsunami di Ambon, Teluk Piru, dan Saparua adalah tidak benar atau hoaks," tulisnya melalui keterangan resmi, Jumat (27/9).


Berdasarkan hasil monitoring BMKG hingga Jumat (27/9) pukul 10.00 WIB gempa bumi yang terjadi di Kairatu, Ambon, dan Haruku bermagnitudo 6,5. Sementara sehari sebelumnya yakni Kamis (26/9) tercatat ada 264 kali gempa bermagnitudo terbesar 5,6 dan terkecil 3,0.

BMKG mengimbau masarakat tidak terpancing isu atau berita bohong yang beredar dan tidak dapat dipertangungjawabkan kebenarannya.

BMKG mencatat gempa bumi yang terjadi di Ambon disebabkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar mendatar (strike slip fault).

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan hasil  permodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tidak berpotensi tsunami.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif lokal," kata Daryono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (27/9).

Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 3,43 derajat LS dan 128,46 derajat BT, atau tepatya berlokasi di darat pada jarak 15,3 km arah Tenggara kota Kairatu atau berjarak 43 km arah Timur Laut kota Ambon, Provinsi Maluku di kedalaman 10 km.

"Menurut informasi dirasakan dari masyarakat dan shakemap BMKG dampak gempa bumi dirasakan di daerah Kairatu, Haruku, Tihulae, Latu,  dan Ambon dalam skala intensitas V-VI MMI.  Wilayah ini berpotensi terjadi kerusakan," ujarnya. (evn/evn)