Ketika matahari berada tepat di atas kepala, bayangan benda yang berdiri tegak seolah-olah menghilang. Padahal sebenarnya, bayangan hanya bertumpu pada benda tersebut.
Salah satu penyebab hilangnya bayangan lantaran kemiringan sumbu rotasi Bumi terhadap bidang ekliptika. Akibatnya, matahari terlihat seperti bergerak dari timur ke utara. Fenomena ini dikenal juga dengan sebutan gerak semu matahari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui keterangan resmi, waktu terjadinya kulminasi pun tak jauh dari saat matahari tepat melintasi khatulistiwa. Pontianak, kota yang dilintasi oleh garis khatulistiwa, setiap tahunnya akan menghadapi fenomena kulminasi.
Sementara itu kota Sabang yang berada di paling barat Indonesia menjadi area pertama yang mengalami kulminasi utama. Sedangkan kota Seba di Nusa Tenggara Timur akan mengalami kulminasi pada 21 Oktober 2019.
Sejumlah area lain di Indonesia juga akan merasakan fenomena kulminasi yang terjadi dua kali dalam setahun. Hanya saja, waktu terjadinya fenomena berbeda-beda di beberapa daerah.
Kendati matahari berada tepat di di atas kepala yang membuat bayangan bertumpu pada bendanya, BMKG mengatakan fenomena ini tidak akan memengaruhi bayangan pepohonan.
Pohon rindang akan tetap memiliki bayangan ketika terpapar cahaya matahari. Tak hanya itu, ketika sebelum dan setelah tengah hari saat terjadinya kulminasi, benda berdiri tegak seperti tugu akan tetap memiliki bayangan. (ndn/evn)