Edukasi & Fitur

Memilih Kuda Besi Berdasarkan 'Power to Weight Ratio'

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Senin, 14/10/2019 16:24 WIB
Memilih Kuda Besi Berdasarkan 'Power to Weight Ratio' Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Febri Ardani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selain desain dan posisi duduk yang benar, ada satu poin yang tak kalah penting dalam memilih sepeda motor untuk digunakan sehari-hari, yaitu power to weight ratio (PWR).

Tidak banyak konsumen jeli menghitung PWR produk kuda besi. Padahal motor bisa dihitung kemampuannya dari kertas brosur yang hasilnya bisa menentukan akselerasi motor di jalan menanjak, trek lurus dan saat bermanuver.

Kita ambil contoh Yamaha 155 cc VVA S Version yang punya berat isi (terisi oli dan bahan bakar) 118 kg, yang melontarkan daya 11 kW (14,7 tenaga kuda) pada 8.000 rpm dan 13,8 Nm mulai 6.250 rpm.


Untuk menghitung PWR-nya dengan membagi tenaga motor dengan bobot motor, atau 11 kW : 118 kg = 0,09 (kw/kg). Artinya tiap 1 kW, membawa beban 0,09 kg.

Sebagai pembanding adalah Honda ADV 150 tipe CBS dengan berat isi 132 kg. Skutik pendatang baru ini melontarkan tenaga 10,7 kW pada 8.500 rpm dan torsi 1,34 Nm mulai 6.500 rpm. Menghitung PWR-nya 10,7 kW : 132 kg = 0,08 (kw/kg).

Kesimpulannya hasil perhitungan PWR mendekati angka 1, praktis motor mudah berakselerasi di lintasan. Namun ini tidak bisa menjadi acuan motor pertama bisa lebih unggul.

Jika motor pertama ditumpangi pengendara dengan hitungan total bobot jauh lebih berat dari motor kedua, praktis motor kedua akan punya PWR lebih baik. Kondisi ini karena motor kedua tidak mengangkut beban berlebihan yang melebihi kemampuan motor.

Untuk diingat, keunggulan lain pada motor dengan PWR yang baik bisa meningkatkan efisiensi bahan bakarnya karena pengendara tidak perlu memutar selongsong gas berlebih untuk membuat motor bergerak sesuai keinginan. (mik)