Bus Transjakarta dari China Kondisi Baru bukan Rekondisi

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Kamis, 17/10/2019 08:15 WIB
Bus Transjakarta dari China Kondisi Baru bukan Rekondisi Bus Transjakarta merek Zhongtong didatangkan dari China. (Foto: Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bus Transjakarta merek asal China Zhongtong yang resmi beroperasi sejak Jumat pekan lalu merupakan unit baru. Bus ini bukan hasil rekondisi, atau memanfaatkan bus lama yang diperbaiki kemudian digunakan kembali.

"Itu semua (bus Transjakarta Zhongtong) baru," kata Direktur Utama Transportasi Jakarta (Transjakarta) Agung Wicaksono ditemui di Jakarta, Rabu (16/10).

Menurut Agung pengadaan bus Zhongtong diserahkan sepenuhnya kepada Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD), selaku penyedia bus. Ia tidak mau banyak berbicara soal jumlah unit bus China yang kembali digunakan sebagai armada Transjakarta.


"Tapi tanya ke PPD saja ya," singkat dia.

Terkait perawatan selama digunakan sebagai armada Transjakarta, Agung menyebut bakal menjadi urusan Agen Pemegang Merek (APM) Zhongtong. Lebih dari itu Agung tidak ingin memberikan jawaban.

"Ya ada APMnya kok," ucap Agung yang enggan menjelaskan bus dalam kondisi baru didatangkan dari China atau bus baru namun didiamkan selama ini.

Bus merek Zhong Tong sebelumnya pernah dioperasikan pertama kali melalui kontrak bersama Perum PPD pada 2013. Pengoperasian bus tersebut didasari keputusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI).

Beroperasi selama lebih kurang dua tahun, bus itu kemudian dihentikan operasinya pada 2015 oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selaku Gubernur DKI Jakarta saat itu. Menurut Ahok bus-bus asal China tidak laik jalan berdasarkan rangkaian kejadian kebakaran serta mogok.

Pada 2018, Budi Kaliwono yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama Transjakarta mengakui armada bermasalah adalah bus China. Selain itu Zhongtong juga tidak memiliki APM. Oleh sebab itu bus Zhongtong diganti menggunakan merek ternama seperti Scania dan Mercedes-Benz.

"(Bus) China tidak jelek, cuma itu tidak ada agen untuk perawatan. Bus Scania kuat, Mercedes-Benz kuat. Jadi karena tidak punya perawatan (bus China di Indonesia), kami tidak bisa maksimal," kata Budi. (ryh/mik)