Administrator NASA, Jim Bridenstine mengatakan ada banyak peluang bagi negara-negara di luar Amerika dan Eropa untuk ikut serta berpartisipasi dala misi ke bulan.
"Saya rasa ada banyak peluang untuk ke Bulan, dan kami membutuhkan mitra internasional untuk bisa sampai ke Bulan," ungkap Bridenstine seperti mengutip AFP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kontribusi semua negara terkait bagaimana mereka menjadi bagian dari arsitektur, maka tentu saya melihat tidak ada alasan agar kita bisa menggandeng semua mitra internasional untuk bisa bersama kami ke Bulan," ucapnya.
"Kami juga dalam pembicaraan dengan NASA, sehingga nanti akan ada astronaut Eropa di permukaan Bulan," ungkap Worner.
Menurutnya pada awal meluncur di 2024 besar kemungkinan mini ini murni membawa kru berkewarganegaraan Amerika. Ia membuka kemungkinan warga negara Eropa bisa menyusul menginjakkan kaki ke Bulan pada 2027 atau 2028.
Anggaran sebesar US$3 miliar atau setara dengan Rp42,2 triliun digunakan untuk membangun tiga buah kapsul Orion. Lockheed Martin membangun kapsul ini agar para astronaut Amerika Serikat kembali ke bulan pada 2024.
Jepang menjadi salah satu negara yang belakangan menunjukkan ketertarikannya untuk misi antariksa. Rencana NASA ini disebut bisa memberikan keuntungan bagi Jepang untuk membuat bab baru dalam sejarah antariksa.
"Ini pertanyaan yang sangat sederhana bagi saya karena Badan Eksplorasi Luar Angkasa Jepang (JAXA) ingin mengirim astronaut Jepang ke permukaan bulan," ungkap presiden JACA, Hiroshi Yamakawa. (evn)