Dalam pesan yang beredar itu disebutkan kalau Indonesia, Malaysia dan beberapa negara lain saat ini sedang mengalami gelombang panas. BMKG melakukan klarifikasi bahwa Indonesia saat ini Indonesia dilanda suhu panas, bukan gelombang panas.
"Fenomena gelombang panas tidak terjadi di Indonesia," jelas Deputi Bidang Meteorologi, R. Mulyono R. Prabowo, seperti tertulis dalam siaran pers yang diterima CNNIndonesia, Rabu (23/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Suhu panas bisa terjadi dimana saja. (Misal) Sumatera di satu kota. Di saat yang sama Kalimantan muncul di 2-3 titik. Spot-spot gitu. Kalau gelombang, bergantian lokasi yang terkena suhunya, seperti merambat," jelasnya.
Selain itu, biasanya gelombang panas terjadi pada lintang menengah dan tinggi. Sementara wilayah Indonesia terletak di ekuaotor alias di lokasi dengan lintang rendah. Menurut Mulyono, sistem dinamika cuaca di daerah ekuator tidak memungkinkan terjadinya gelombang panas.
Lebih lanjut, suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya Gerak semu matahari yang merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.
Menurut Mulyono, batas cuaca bisa disebut ekstrim, seperti terjadi pada gelombang panas, ketika suhu berada di atas 35 derajat Celcius. Sementara suhu di beberapa kota di Indonesia tercatat sudah berada di atas suhu normal tersebut.
Berdasarkan data histori, suhu maksimun di Indonesia belum pernah mencapai 40 derajat Celsius. Pada Selasa (22/10), data BMKG menyebut suhu tertinggi yang pernah terjadi di Indonesia mencapai 39,5 derajat celcius pada tahun 2015 di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Pada 20 Oktober, tercatat Makassar mencapai suhu maksimum tertinggi 38,8 derajat Celcius, diikuti Sangia Ni Bandera di Kolaka, Sulawesi Tenggara mencapai 37,8 derajat Celcius.
BMKG mengimbau masyarakat yang terdampak suhu udara panas ini untuk minum air putih yang cukup untuk menghindari dehidrasi, mengenakan pakaian yang melindungi kulit dari sinar matahari jika beraktivitas di luar ruangan, serta mewaspadai aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi karhutla.
Selain itu, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai adanya angin kencang yang berpotensi terjadi di pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan. (eks)