"Potensi suhu panas di siang hari masih harus diwaspadai hingga sepekan ke depan," kata Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Miming Saepudin, dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat (25/10).
Hingga pekan depan suhu maksimum dapat mencapai 39 derajat Celcius. BMKG mencatat suhu tertinggi selama dua hari terakhir terjadi di Semarang yang juga mencapai 39 derajat Celcius.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Miming menjelaskan suhu panas ini terjadi karena posisi matahari berada di titik kulminasi tertinggi, tidak ada awan yang menutupi, dan suhu kelembapan yang rendah. Akibatnya, cahaya matahari langsung menuju wilayah Indonesia sehingga cuaca menjadi panas. Masyarakat diimbau untuk banyak minum air putih dan mengurangi aktivitas di bawah matahari langsung.
"Minum air yang cukup jangan sampai dehidrasi, gunakan pakaian yang nyaman, kurangi aktivitas di bawah matahari atau kenakan pelindung," kata Sesditjen P2P Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto.
Beda dengan gelombang panas
Miming juga menyatakan bahwa suhu panas di Indonesia bukanlah gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa dan India. Dia meminta masyarakat tidak perlu khawatir dan tidak termakan hoaks yang banyak beredar.
"Suhu panas berbeda dengan gelombang panas," tutur Miming.
Gelombang panas terjadi pada wilayah yang berada di lintang tinggi. Gelombang panas itu terjadi karena pengaruh atmosfer di kutub dan lintang menengah.
Menurut Miming, di Indonesia tak mungkin terjadi gelombang panas karena secara dinamika berbeda. Indonesia berada di ekuator sehingga kondisi cuaca dan fenomena berbeda.
[Gambas:Video CNN] (ptj/eks)