Hal ini diungkapkan Direktur Deteksi Ancaman BSSN Sulistyo saat BSSN menandatangani nota kesepahaman dan kesepakatan kerja sama dengan Huawei.
"Kekhawatiran backdoor ini isu sangat seksi untuk dimainkan. Tapi tentu kita harus bicara apakah isu tersebut merupakan fakta dan realita. Kemudian yang menjadi kesadaran kita untuk menjadi rekomendasi pada pimpinan," kata Sulistyo kepada wartawan di Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat, Selasa (29/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan BSSN memiliki prinsip netral teknologi. BSSN terbuka dengan seluruh perusahaan terbuka besar di ekosistem keamanan digital. Ia menjelaskan dalam mengamankan ranah siber, kolaborasi harus dilakukan.
"BSSN terbuka. tapi tentu ada prasyarat yang harus dipenuhi. Tidak kemudian BSSN hanya gunakan produk Huawei," katanya.
Kerja sama antara BSSN dengan Huawei dalam rangka pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang keamanan siber, pembangunan kesadaran masyarakat terhadap keamanan siber, serta knowledge sharing terhadap ancaman-ancaman keamanan siber di dunia yang kian terkoneksi saat ini.
Pengembangan ini dilakukan melalui serangkaian pengembangan kapasitas berupa seminar dan workshop yang diperuntukkan bagi peserta dari beragam sektor dan industri, dari pemerintahan, bisnis, komunitas, akademisi, hingga masyarakat umum.
"Kerja sama yang dilakukan dengan Huawei adalah pengembangan kapasitas SDM, kemudian kegiatan workshop dan seminar," ujar Sulistyo.
"Tidak bisa sendirian di keamanan sistem teknologi. Kolaborasi ini penting, kolaborasi BSSN dengan Huawei penting karena Huawei bagus di inovasi," kata Wang.
Huawei menyangkal hubungannya dengan mata-mata China. Kepala keamanan siber Huawei John Suffolk mengungkapkan kepada Parlemen Inggris bahwa perusahaan tidak memiliki kewajiban untuk memata-matai untuk negara.
Suffolk menjelaskan tidak ada undang-undang China tentang kerja sama perusahaan domestik dengan pemerintah mengenai masalah keamanan yang dapat memaksa untuk melakukan pekerjaan intelijen asing. (jnp/evn)