Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenritek Muhammad Dimyati mengatakan ada atau tidaknya LIPI dan BPPT tergantung pada hasil dari kesepakatan anggota BRIN yang tengah disusun.
"Saya tidak bisa menjawab [apakah LIPI dan BPPT ditiadakan setelah ada BRIN]. Nanti kita lihat organisasi ristek BRIN yang sedang disusun," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (31/10) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti BRIN konsepnya akan ditekankan bahwa harus ada integrasi antara riset hulu [riset dasar] sampai menjadi inovasi lalu ke komersialisasi produk," kata dia kepada awak media usai pembukaan acara High Level Meeting on Science, Technology and Higher Education Coorporation di Universitas Hasannudin, Makassar, Kamis (31/10) kemarin.
Lebih lanjut, Dimyati menjelaskan soal perbedaan tugas antara Badan Riset dan Inovasi (BRIN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
"BRIN nantinya harus bisa menjawab harapan-harapan presiden dan masyarakat dalam mewujudkan ekosistem riset dan inovasi yang baik," tuturnya.
Sementara LIPI melaksanakan penelitian dan pengembangan yang lebih menghasilkan invensi. Invensi ini masih berupa ide untuk pemecahan masalah berupa baik berupa proses maupun pengembangan produk. Sedangkan BPPT berperan sebagai eksekutor ide. Badan ini melakukan pengkajian dan penerapan untuk menghasilkan inovasi.
Lebih lanjut, Damyati mengatakan susunan anggota BRIN saat ini masih digodok dan direncanakan resmi diperkenalkan tahun 2020.
"Untuk tahun 2020 sedang disiapkan organisasi Ristek-BRIN kemudian nanti bicara soal anggaran riset," pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan akan fokus pada program, struktur dan implementasi BRIN, serta mensinergikan program-program pendidikan tinggi dengan Kemendikbud. Menurut Bambang, hal ini akan jadi fokus program 100 hari kementeriannya. (din/eks)