Meskipun kendaraan bertenaga listrik diakui tidak mengeluarkan karbon dioksida, namun di balik itu ada masalah yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Berdasarkan laporan Toyota Motor Co yang diterima CNNIndonesia.com saat berkunjung ke Tokyo Motor Show (TMS) 2019 di Tokyo, Jepang beberapa waktu lalu, bahwa total penjualan mobil bertenaga listrik di dunia pada 2018 sentuh 1,28 juta. Jika ditotal populasi mobil listrik di dunia lebih dari 5 juta unit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi kondisi ini, perlu ada kesepakatan untuk mengolah baterai bekas berbahan lithium di sebuah lokasi yang jauh dari permukiman warga.
Sebuah penelitian yang dirilis Nature pada Rabu (6/11) gagasan mendaur ulang baterai bekas ini sangat penting. Hal tersebut adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh penyedia baterai.
"Kami percaya bahwa sangat mungkin untuk pindah ke teknologi daur ulang yang lebih maju yang tidak hanya dapat memulihkan proporsi yang lebih besar dari bahan dalam baterai tetapi juga akan lebih mampu menangani volume baterai limbah EV yang kami antisipasi datang melalui sistem," kata peneliti dari University of Birmingham Gavin Harper mengutip CNN.
Di satu sisi, baterai yang terpasang pada kendaraan tidak dapat dilepas oleh orang yang kurang ahli menanganinya. Hanya orang-orang yang memiliki keahlian khusus yang dapat melakukannya. Sebab bila salah saat pembongkaran kemungkinan buruk seperti baterai meledak dapat membahayakan orang di sekitarnya.
Artinya selain ditangani ahli, daur ulang baterai kendaraan listrik menjadi solusi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil yang saat ini menjadi salah satu penyebab perubahan iklim.
[Gambas:Video CNN] (ndn/mik)