Dikutip dari AFP, Jumat (15/11), hasil analisa internal Daimler bahwa pemberhentian karyawan bisa menghemat keuangan perusahaan hingga US$ 1,1 miliar atau Rp15,5 triliun.
Raksasa otomotif Jerman dikabarkan mendapat sandungan atas kasus dieselgate hingga mengharuskan perusahaan membayar denda 870 juta euro atau sekitar Rp13,5 triliun yang diputuskan pengadilan Jerman dua bulan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal pemanufaktur tengah fokus peralihan menuju kendaraan listrik dan teknologi otonom yang disebut menghabiskan dana hingga miliaran dolar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu industri otomotif Jerman secara keseluruhan tengah mengalami perlambatan, salah satunya imbas dari konflik perdagangan AS-China dan 'ketidakpastian' Brexit.
Daimler sendiri mencoba bertahan dari terpaan 'badai' yang tidak bisa diprediksi kedatangannya.
Perusahaan mengalami rugi bersih (net loss) 1,2 miliar euro (setelah dipotong bunga dan beban pajak lainnya) pada kuartal kedua 2019, artinya kerugian tiga bulan pertama dalam 10 tahun.
Akibatnya, Daimler membatasi investasinya dalam penelitian dan pengembangan (RnD) untuk beberapa waktu ke depan, termasuk divisi Daimler Truk. (afp/mik)