Mengarungi pasar otomotif Indonesia sejak 2014, Datsun masuk ke segmen mobil harga terjangkau ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC) melalui Go dan Go+.
Datsun keluar dari pakem LCGC dengan dengan meluncurkan Cross pada 2018 namun penjualannya kurang maksimal sampai akhirnya produksi Datsun di Indonesia dihentikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya mereka mau minimize kerugian. Menurut berita kan profitnya drop 70 persen. Wajar jika Nissan coba efisiensi, unit-unit bisnis yang rugi karena skala ekonomi tidak memadai ditutup," ucap Amelia kemudian.
Mengulik data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) periode Januari-Oktober 2019, penjualan Datsun terdepak ke posisi 11 penjualan mobil di Indonesia, dengan wholesales 5.921 unit atau 0,7 persen. Angka itu menyusut jauh ketimbang pencapaian pada periode yang sama tahun lalu, 9.701 unit.
"Iya soal masuk atau berhenti jualan saya rasa itu ranah Datsun untuk menjawab ya," ucap Anton.
Bagi Anton, pasar otomotif Tanah Air sangatlah dinamis. Toyota juga 'bertahan' menghadapi perubahan kondisi pasar, termasuk kemungkinan kehadiran merek baru yang berpotensi menjadi penantang baru Toyota menggantikan Datsun untuk pasar 'mobil murah' nanti, contohnya Renault Triber yang harganya beririsan dengan LCGC.
"Toyota selalu harus siap menghadapi perubahan kondisi di pasar," ungkap Anton.
"Intinya daya saing dan akhirnya bicara skala ekonomi. Beberapa brand baru (di Indonesia) dapat mencapai pangsa pasar yang diharapkan karena daya saing produknya baik di dalam maupun untuk Ekspor," tutup Harjanto. (ryh/mik)