Dilansir dari AFP, Minggu (1/12), Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China pada September 2019 lalu merilis pengumuman terkait perlindungan hak dan kepentingan pengguna online. Pengumuman tersebut juga mendesak pemberlakuan aturan pendaftaran nomor baru menggunakan nama asli pengguna.
Dalam pengumuman tersebut, pemerintah China meminta operator telekomunikasi harus menggunakan kecerdasan buatan dan teknologi terkait untuk memverifikasi identitas pengguna saat mereka menggunakan nomor telepon baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Tips Penguat Sinyal HP saat Koneksi Buruk |
Begitu pun kebijakan pemindaian wajah. Secara online, pengguna media sosial China mengeluarkan reaksi beragam mulai dari mendukung hingga menentang terhadap kebijakan verifikasi wajah. Beberapa merasa khawatir data biometriknya akan bocor atau dijual.
"(Kebijakan) ini sedikit berlebihan," tulis salah seorang pengguna Weibo, aplikasi media sosial serupa Twitter, mengomentari artikel terkait aturan baru itu.
[Gambas:Video CNN]
Sejumlah peneliti sudah mengingatkan soal risiko privasi terkait teknologi pengenal wajah pengguna. Namun, teknologi tersebut sudah digunakan secara luas meski gugatan terhadap aplikasi pengenal wajah dilayangkan bulan lalu.
Pada awal November, berdasarkan pengadilan setempat, profesor China melayangkan gugatan terhadap taman safari di Hangzhou, timur Provinsi Zhejiang lantaran mewajibkan pemindaian wajah untuk masuk.