Panen Ratusan Ikan Cupang Alam di Depok

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Senin, 16/12/2019 08:24 WIB
Ikan cupang alam atau Betta Channoides adalah endemik Kalimantan Timur. Ikan hias ini memiliki bentuk kepala seperti ular. Budi daya ikan cupang alam (Betta Channoides) di Depok, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Feny Selly)
Jakarta, CNN Indonesia -- Budi daya ikan cupang alam (Betta Channoides) di Depok, Jawa Barat sejak Mei 2019 akhirnya membuahkan hasil. Ikan hias yang dikembangbiakkan menghasilkan hingga ratusan larva.

Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Depok menyampaikan hasil usaha tiga pembudidaya di bawah Balai Benih Ikan (BBI) Kota Depok telah menghasilkan sebanyak 268 larva per November 2019.

"BRBIH telah berhasil mengembangkan ikan ini dan telah dipelajari cara budidayanya agar bisa berkembang dan lestari. Keberhasilan ini tentunya sangat bermanfaat untuk disebarkan ke masyarakat khususnya di wilayah Depok bahkan di berbagai daerah," kata Sekretaris Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Maman Hermawan dalam keterangan resmi dikutip, Senin (16/12).


Ikan Betta Channoides adalah endemik Kalimantan Timur. Ikan hias ini memiliki bentuk kepala seperti ular dan memiliki kemiripan dengan kepala ikan gabus.

Betta Channoides merupakan salah satu cupang alam yang cukup populer karena warnanya yang cukup menarik perhatian. Jantan berwarna merah kecokelatan dengan adanya garis putih disiripnya, sementara betinanya berwarna lebih pucat.

Jika tumbuh dewasa ikan dari jenis ini memiliki ukuran paling panjang 5 cm.

Ikan cupang alam salah satu kategori ikan 'mouth breeder', yaitu ikan yang telurnya dierami secara alami di mulut hingga menetas dan menjadi larva selama kurang lebih 10 sampai 15 hari.

Namun dalam proses budidaya, larva akan dikeluarkan dari mulut induk jantan dengan cara pengocokan pada hari 6 sampai 8 pengeraman.

Meskipun tidak alami, jumlah larva lebih banyak dan sintasan larva [induk] dapat bertahan hingga 80 persen.

Jika dibiarkan hingga 15 hari, meskipun sintasannya lebih tinggi, namun jumlah larva yang dihasilkan lebih sedikit. Dan jika dikalkulasikan, dengan intervensi memang jauh lebih tinggi hasilnya dibanding secara alami.

[Gambas:Video CNN]

(mik)


ARTIKEL TERKAIT