Serangan Siber 2020 Makin Ngeri, Pakai Kecerdasan Buatan

CNN Indonesia | Senin, 06/01/2020 10:28 WIB
Penjahat siber pada 2020 diprediksi akan makin mengerikan, karena bakal menggunakan kecerdasan buatan untuk menyerang korban. Ilustrasi (Istockphoto/ Undefined)
Jakarta, CNN Indonesia -- Serangan siber dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI) diprediksi akan makin mengerikan pada 2020. Lembaga riset siber Indonesia CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) menyebut mereka akan menyerang dengan kecerdasan buatan, sehingga membuat serangan siber semakin berbahaya.

Ketua CISSReC Pratama Persadha mengatakan peretas memanfaatkan AI agar malware, ransomware, virus, hingga trojan bisa terus berkembangan dan terus memperbaiki kelemahannya untuk melawan anti virus.

"Perkembangan AI memang sangat menggembirakan, bahkan menjadi solusi di berbagai tempat. Namun kita juga wajib antisipasi bahwa AI digunakan untuk mengembangkan perangkat serangan siber yang lebih canggih, sebuah parasit di wilayah siber yang bisa berpikir seperti manusia," kata Pratama dalam keterangan resmi, Selasa (31/12).



Bagi Pratama, perkembangan AI tak hanya mendorong perkembangan industri digital tapi juga turut mendorong perkembangan serangan siber. Serangan siber lewat Internet of Thing (IoT) juga akan diprediksi akan meningkat pada 2020.

Keunggulan IoT yang menghubungkan berbagai perangkat satu sama lain justru menciptakan celah bagi peretas untuk masuk ke jaringan bisnis.

"Maraknya perangkat terhubung satu sama lain bisa menciptakan celah bagi penyerang untuk membajak perangkat ini untuk menyusup ke jaringan bisnis," ujar Pratama.

Ancaman terhadap kelangsungan pilkada serentak 2020 di tanah air juga bisa berasal dari wilayah siber. Pratama mengatakan AI juga bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan ujaran kebencian dan hoaks yang membahayakan situasi kondusif pilkada serentak.

Oleh karena itu, Pratama berharap penegakan hukum dan edukasi bisa digencarkan untuk mengurangi ancaman terhadap pilkada serentak.

[Gambas:Video CNN]


Menurut Pratama, tren hoaks akan makin canggih. Terutama dengan teknologi deepfake yang bisa membuat video palsu yang mirip asli. Dengan deepfake, video palsu bisa dibuat dengan memanipulasi muka dan suara seseorang.

Di video itu, seseorang bisa dibuat mengatakan sesuatu yang tidak ia katakan. Semua ini dikembangkan menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelegence/ AI).

"Salah satu hasilnya adalah video hoax yang secara kasat mata sulit sekali dibedakan mana asli mana hoax. Ini harus diwaspadai sejak dini, karena rawan memecah belah masyarakat bawah," tegas Pratama.

Minimnya edukasi kepada masyarakat juga berkaitan dengan tingginya peretasan phising yang dibungkus melalui rekayasa sosial. Kaspersky menyatakan bahwa ada 14 juta upaya phising hanya di Asia Tenggara sepanjang paruh pertama 2019.


Pratama mengatakan semakin banyak orang sadar celah keamanan tidak selalu soal sistem pada web, aplikasi dan jaringan. Makin banyak yang menyadari bahwa manipulasi bisa juga dilakukan lewat korban yang minim pengetahuan teknologi informatika.

Celah keamanan yang paling banyak dimanfaatkan adalah meminta OTP melalui SMS maupun telepon. Praktek ini merupakan praktek rekayasa sosial yang sudah sering dilakukan pelaku kejahatan dengan berbagai modus operasi.

Pratama kemudian mencotohkan kasus Gopay Maia Estianty yang mengalami serangan siber akibat bobolnya OTP.

"Baik pihak perbankan, marketplace dan siapapun yang berbisnis dengan internet serta aplikasi harus memperhatikan ini. Aspek penguatan keamanan siber tidak hanya di teknis, namun juga edukasi ke masyarakat, sehingga memperkecil peluang penipuan," kata Pratama.

Pratama mengatakan dari sisi SDM, Indonesia harus berbenah diri untuk siap menghadapi ancaman siber dan digitalisasi. SDM di Indonesia saaat ini dianggap kurang siap menghadapi ancaman siber dan digitalisasi.

"Pemerintah cukup menyadari ini dengan mengadakan Digital Talent 2019 yang salah satunya memperbanyak SDM dengan kemampuan di bidang siber, salah satunya adalah keamanan siber," tutur Pratama. (jnp/eks)