Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjelaskan hujan meteor terjadi karena bumi berpapasan dengan benda angkasa yang lewat dan debu batuan yang terbawa masuk ke dalam atmosfer bumi. Pertemuan ini mengakibatkan sebuah gesekan antara atmosfer Bumi dengan meteoroid yang datang dari luar atmosfer Bumi.
Benda angkasa ini berpapasan dengan Bumi karena ia juga mengorbit ke Matahari. Benda angkasa ini habis terbakar dengan panas 1.650 derajat celsius saat memasuki atmosfer. Proses pembakaran ini yang dilihat mata manusia sebagai meteor jatuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk memudahkan identifikasi pada peristiwa hujan meteor ini, titik radiant ini kemudian dikaitkan dengan rasi/konstelasi yang terdekat dengan titik tersebut," kata Gunawan.
[Gambas:Video CNN]
Gunawan mengungkapkan para astronom telah mencatat banyak peristiwa hujan meteor dan fenomena ini ternyata berlangsung pada tanggal-tanggal tertentu setiap tahunnya. Para astronom kemudian berasumsi bahwa hal tersebut berkaitan dengan orbit Bumi mengelilingi Matahari.
"Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa ini terjadi ketika Bumi melewati daerah yang ditempati debu komet atau asteroid, dan saat itu debu komet/asteroid tersebut memasuki atmosfer Bumi dan menghasilkan fenomena hujan meteor," kata Gunawan.