BMKG Ingatkan Gelombang Tinggi 4 Meter di Papua Barat

Antara,, CNN Indonesia | Minggu, 12/01/2020 19:24 WIB
BMKG Ingatkan Gelombang Tinggi 4 Meter di Papua Barat Ilustrasi gelombang tinggi hingga 4 meter di wilayah perairan Papua Barat dan perairan utara Papua. (Foto: CNNInndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura, Provinsi Papua mengimbau masyarakat waspada potensi gelombang tinggi hingga 4,0 meter.

BMKG juga memperingatkan kecepatan angin dapat mencapai 20-30 knots terjadi di wilayah perairan Papua Barat dan perairan utara Papua.

"Prakiraan cuaca gelombang laut dan angin kencang di wilayah perairan berlaku 24 jam mulai 6 Januari 2020 pukul 09.00 WIT," kata Kepala BMKG Wilayah V Jayapura, Petrus Demon Sili di Jayapura, Ahad dilansir Antara, Minggu (12/1).


Dia mengingatkan nelayan dan nakhoda kapal agar mewaspadai gelombang tinggi dan angin kencang yang terjadi di perairan Papua dan Papua Barat.

Nakhoda kapal Tongkang, Kapal Ferry dan kapal berukuran besar juga diminta memperhatikan risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran.

"Untuk perahu nelayan diharapkan mewaspadai kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter," katanya.

Untuk nakhoda kapal tongkang diharapkan memperhatikan kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter.

Nakhoda kapal Ferry juga diminta untuk memperhatikan kecepatan angin 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter.

"Sedangkan kapal ukuran besar seperti kapal kargo/kapal pesiar diharapkan memperhatikan kecepatan angin lebih dari 12 knot dan tinggi gelombang di atas 4,0 meter," tutupnya.

[Gambas:Video CNN]

Sebelumnya, BMKG mengimbau kepada warga yang tinggal di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, hingga Bekasi (Jabodetabek) untuk tetap waspada potensi hujan sedang hingga lebat pada hingga 12 Januari.

Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono potensi itu disebabkan oleh dinamika atmosfer menunjukkan aktivitas monsun Asia masih signifikan. Selain itu, gelombang atmosfer (MJO) pun masih aktif di wilayah Indonesia.

"Adapun pola konvergensi angin yang memanjang mulai dari Banten bagian utara hingga Nusa Tenggara, akibat adanya pusat tekanan rendah di barat Laut Australia dan bibit Siklon Tropis di sekitar Teluk Carpentaria Australia," tulis Mulyono melalui keterangan rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (8/1). (mik)