Tak hanya itu, BPPT juga akan memasang delapan buoy di sejumlah perairan Indonesia untuk memperkuat sistem deteksi dan peringatan dini tsunami.
"Tahun 2020 kami akan menambah lagi posisinya lebih ke arah Indonesia timur, jadi kami akan memasang 8 buoy, kemudian empat lagi CBT di pulau-pulau di sekitar Halmahera, Sulawesi dan lainnya," kata Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Yudi Anantasena, seperti dilaporkan Antara, Selasa (14/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"BMKG harus memberikan peringatan potensi terjadi tsunami nanti diverifikasi oleh buoy dan CBT, apakah benar terjadi tsunami atau tidak sehingga BMKG bisa lebih cepat untuk mengonfirmasi ada atau tidaknya," tuturnya.
Selain itu, ada Ina-CBT dengan kabel optik sepanjang 7,5 kilometer di Pulau Sipora di Perairan Mentawai. Ia menjelaskan CBT yang akan dipasang di sekitar Halmahera dengan panjang kabel 25 kilometer.
[Gambas:Video CNN]
"CBT untuk menghubungkan pulau-pulau kecil, di situ akan kami pasang beberapa sensor. Dan kami punya dua hub di daratan sehingga punya kontrol yang lebih bagus," ujarnya.
Untuk pemasangan CBT baru itu, kata dia, tentu akan dilakukan tender untuk ditawarkan kepada pihak swasta dalam rangka melakukan pemasangan kabel bawah laut.
Selain itu, Yudi menuturkan BPPT ke depan akan mengembangkan CBT dengan sensor yang lebih canggih yang dapat mendeteksi sejumlah fenomena laut, seperti suhu di bawah permukaan laut, tekanan dan seismik.
Sementara CBT buatan BPPT yang terpasang saat ini baru bisa mengukur perbedaan tekanan air hingga sangat kecil di bawah permukaan laut guna mendeteksi potensi tsunami yang muncul, dan gempa.