Informasi itu merupakan bagian sosialisasi perusahaan atas penyelenggaraan program B30 yang sudah diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 23 Deesember 2018. Menurut Jokowi, B30 bisa menghemat devisa negara hingga Rp63 triliun dan bermanfaat pada industri kelapa sawit yang menjadi bahan baku bahan bakar jenis ini.
Lihat juga:Jokowi Resmikan Program B30 Ditemani Ahok |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terakhir, DVCI mengatakan interval perawatan mesti disesuaikan kualitas pelumas, kondisi saringan, dan kondisi pengoperasian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga sudah merilis rekomendasi penggunaan B30 berdasarkan hasil uji selama setahun sejak Agustus 2018. Salah satu rekomendasinya yakni agar para pemegang merek memberi informasi ke konsumen terkait penggantian saringan bahan bakar lebih cepat pada kendaraan yang belum pernah menggunakan biodiesel.
1. Persentase perubahan daya/power, konsumsi bahan bakar, pelumas, dan emisi gas buang relatif sama antara bahan bakar B20 dan B30 terhadap jarak tempuh kendaraan bermesin diesel.
2. Opasitas gas buang kendaraan pada penggunaan bahan bakar B30 masih berada di bawah ambang batas ukur dan tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan.
3. Kendaraan berbahan bakar B0, B30 (MG Biodiesel 0.4%) dan B30 (MG Biodiesel 0.55%) dengan waktu soaking (didiamkan) selama 3, 7, 14, dan 21 hari dapat dinyalakan normal dengan waktu penyalaan sekitar 1 detik.
4. Kendaraan baru atau yang sebelumnya tidak menggunakan biodiesel cenderung mengalami penggantian filter bahan bakar lebih cepat di awal penggunaan B30 karena efek blocking, namun sesudahnya kembali normal. (fea)