Reini merupakan rektor perempuan pertama di ITB, setelah 60 tahun kampus itu berdiri. ITB pertama kali diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 1959.
Mengutip situs resmi ITB, Reini merupakan Guru Besar dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB. Dia adalah ahli manajemen dan rekayasa konstruksi.
Reini yang pernah mengenyam pendidikan di SMA Tarakanita Jakarta menempuh gelar S1 Teknik Sipil di ITB. Kemudian, dia melanjutkan pendidikan S2 dan S3 terkait Teknik Sipil di Universitas Purdue, Amerika Serikat, seperti tertulis pada curiculum vitae Reini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Reini juga terlibat dalam 12 proyek penelitian, di misalnya tentang pengelolaan rantai pasok proyek infrastruktur dan pengembangan model evaluasi berbasis risiko dalam tender konsesi infrastruktur jalan.
Wanita 52 tahun ini juga sempat mendapat penghargaan Satyalancana Karya Satya XX dari Pemerintah RI.
Dalam keterangan resminya, Reini menyampaikan motivasinya ingin menjadi rektor adalah sebagai ungkapan syukur atas kiprahnya selama 25 tahun di ITB.
"ITB is a happy place (tempat yang membahagikan) buat saya. Sehingga saya memberi kembali kepada ITB dan membuat ITB sebagai tempat yang nyaman bagi mahasiswa dan kawan-kawan dosen dan lainnya," ujar Reini dalam akun Youtube ITB.
Reini menyampaikan transformasi ITB bukan merupakan hal yang mudah dilakukan. Dia berkata transformasi di ITB mesti dilakukan bertahap dan berkelanjutan. Saat ini, dia mengklaim ITB merupakan institusi terdepan dalam bidang Iptek, seni, humaniora, dan sosial.
"Namun untuk maju di tingkat internasional kita perlu perubahan-perubahan yang mendasar," ujarnya.
Sebelumnya, sidang MWA ITB yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Reini sebagai rektor ITB periode 2020-2025. Keputusan itu merupakan hasil seleksi atas 30 calon rektor sepanjang 3,5 bulan. (jps/eks)