Aksi Unjuk Rasa 'Berdarah' di Pameran Otomotif Brussels

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Selasa, 21/01/2020 15:36 WIB
Aksi Unjuk Rasa 'Berdarah' di Pameran Otomotif Brussels Pameran otomotif Brussels Motor Show berlangsung di Belgia pada 10-19 Januari 2020. (Foto: François WALSCHAERTS / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi teatrikal warnai unjuk rasa ratusan orang dalam pameran otomotif Brussels Motor Show berlangsung di Belgia pada 10-19 Januari 2020. Mereka menyampaikan protes terkait buruknya kualitas udara yang disebabkan oleh emisi gas buang kendaraan.

Seseorang pria ada yang bertelanjang dada dan melumuri tubuhnya menggunakan cat merah seperti darah. Ia melakukan aksinya di depan stan perusahaan minyak Shell.

Ada juga yang memegang spanduk bertuliskan "Shell Kills". Sementara yang lain sibuk membagikan selebaran sembari menggunakan topeng bergambar logo Shell, seperti mengutip Euronews, Selasa (21/1).


Beberapa dari mereka juga merantaikan tubuhnya ke kendaraan-kendaraan yang dipamerkan. Mereka tidak hanya beraksi di satu titik di lokasi pameran, melainkan menyebar sembari membentangkan spanduk bertuliskan "Hentikan emisi CO2".

Channel News Asia melaporkan aktivis lingkungan itu menyebut aksi protes untuk meluruskan iklan yang dikeluarkan oleh perusahaan otomotif. Bagi mereka iklan-iklan selama ini bentuk pembodohan.

"Tindakan ini bertujuan untuk mencela banyak kebohongan yang terus dijual produsen mobil kepada publik untuk meningkatkan penjualan mereka dengan mengorbankan lingkungan, kesehatan masyarakat, dan keadilan sosial," ungkap mereka.

[Gambas:Video CNN]

"Kami menyebutnya 'Salon Kebohongan' karena kami sama sekali tidak percaya industri otomotif dapat memberikan solusi bagi krisis ekologi dan iklim ini."

Kemunculan kelompok ini di lokasi pameran dinilai mengganggu. Petugas polisi berhasil menangkap beberapa aktivis bahkan sebelum mereka bisa masuk ke lokasi pameran dikutip dari france24.com.

Dalam aksi menyuarakan pentingnya menjaga lingkungan hidup itu, polisi berhasil mengamankan sekitar 150 orang pada Sabtu (18/1). Namun penahanan aktivis lingkungan itu hanya sementara, mereka kembali dilepas usai didata oleh otoritas setempat. (ryh/mik)


ARTIKEL TERKAIT