Fakta Jet Tempur F-35 AS yang Jadi Momok Iran

Ihsan Dalimunthe, CNN Indonesia | Rabu, 22/01/2020 15:02 WIB
Fakta Jet Tempur F-35 AS yang Jadi Momok Iran Ilustrasi Fakta Jet Tempur F-35A Lightning II milik AS. (Foto: Dok. U.S. Navy photo courtesy Lockheed Martin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jet tempur F-35A Lightning II menjadi teror di angkasa bagi Iran. Saking gugupnya, Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran secara tidak sengaja menembak pesawat komersial dua kali dengan rudal hingga jatuh pada 8 Januari lalu.

Blunder ini disebut-sebut terjadi karena Iran gugup setelah diprovokasi oleh jet tempur siluman F-35A Lightning II milik Amerika Serikat. Burung besi keluaran Lockheed Martin ini menjadi momok menakutkan hingga IRGC tidak sengaja menewaskan 176 penumpang pesawat Ukraine International Airlines.

Berikut beberapa fakta pesawat yang merupakan generasi terbaru dari jet tempur seri F.


1. Punya Dua Saudara

Lockheed merancang F-35 dengan tiga varian, yaitu varian F-35A, F-35B, dan F-35C. Masing-masing pesawat punya keunggulan dan fitur khas.

F-35A merupakan varian dengan tipe conventional takeoff and landing (CTOL). Tipe pesawat ini khusus digunakan oleh angkatan udara, F-35A memiliki proses lepas landas dan mendarat pesawat konvensional seperti pesawat penumpang yang membutuhkan landasan dengan panjang landasan.

Sementara F-35B memiliki short takeoff and vertical landing (STOVL) dengan metode lepas landas dengan landasan pendek dan mendarat secara vertikal, selayaknya helikopter. F-35B memiliki kapasitas sepertiga dari F-35A.

Di sisi lain F-35C memiliki sayap yang lebih lebar dan bisa dilipat. Pesawat ini cocok untuk diangkut di kapal induk Angkatan Laut. Pembahasan fokus ke F-35A karena varian ini menjadi andalan Angkatan Udara Amerika Serikat dalam operasinya di Iran.

[Gambas:Video CNN]

2. Pengembangan Didanai Oleh Sembilan Negara

Amerika Serikat adalah pelanggan utama sekaligus sponsor utama bersama dengan Inggris, Italia, Belanda, Kanada, Turki, Australia, Norwegia, dan Denmark.

Kesembilan negara telah sepakat untuk memberikan kontribusi US$4,3 miliar terhadap biaya pengembangan. Total biaya pengembangan diperkirakan mencapai angka US$40 miliar. Sebanyak 2.400 pesawat diprediksi akan menelan biaya tambahan sebesar US$200 miliar.

3. Penjualan Dikendalikan Oleh Pentagon.

Penjualan F-35 dilakukan melalui program Foreign Military Sales Pentagon. F-35 dalam rencana awal akan diberikan ke sembilan negara mitra sponsor.

Sebanyak 3,1 ribu F-35 akan diberikan ke kesembilan negara hingga 2035. Pengembangan F-35 dimulai pada 1992 lewat program Joint Strike Fighter (JSF). F-35 diterbangkan perdana pada 15 Desember 2006.

4. Kena Banyak Kritik

Sebagai program militer terbesar dan termahal yang pernah ada, F-35 menjadi sasaran banyak penelitian dan kritik.

Kritik berpendapat bahwa itu F-35 memiliki cacat desain. Lockheed juga dikritik dalam proses pengadaan. Sebab secara bersamaan merancang, menguji, dan memproduksi F-35, alih-alih memperbaiki cacat sebelum produksi massal.

5. Dukung Militer Berbagai negara

F-35A tak hanya digunakan sebagai aset militer Amerika Serikat. F-35A juga digunakan oleh beberapa negara, yaitu Australia, Belgia, Denmark, Israel, Italia, Jepang, Belanda, Norwegia, Polandia, Korea Selatan, hingga Turki. (mik/mik)