"Kakap merah saat ini hanya tinggal sekitar enam persen," kata Director of Fisheries Program Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Peter Mous seperti dilaporkan Antara, Jumat (31/1).
Data tersebut didapatkan dengan menggunakan Spawning Potential Ratio (SPR) atau dengan kata lain untuk mengetahui rasio dimana ikan berpijah. Hal tersebut juga hanya digunakan untuk spesies ikan kakap merah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Wisata 'Misteri' di Kampung Lopintol |
"Di program kami, kami melibatkan nelayan untuk cari data tersebut. Contohnya memberi mereka kamera lalu difoto dari semua ikan yang mereka tangkap," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Kemudian, setelah mengumpulkan data-data itu YKAN langsung menganalisa menggunakan komputer. Metode tersebut dinilainya cukup baik untuk mendapatkan berbagai informasi tentang spesies ikan.
Secara umum ia melihat berkurangnya kakap merah dan kerapu salah satunya disebabkan tidak ada batasan dalam penangkapan ikan di Tanah Air.
"Perikanan Indonesia kalau ada yang mencari ikan hanya tinggal mengurus administrasi saja dan perizinan juga dipermudah," katanya.
Menurutnya, saat ini yang perlu dilakukan yaitu peningkatan kualitas tangkapan ikan bukan penambahan kapal.