Melansir World Organisation for Animal Health (OIE), ASF adalah penyakit pendarahan yang sangat menular pada babi domestik dan liar. Kemunculan virus itu disebabkan oleh virus DNA besar dari keluarga Asfarviridae yang juga menginfeksi kutu genus Ornithodoros.
Meskipun tanda-tanda ASF dan Classical Swine Fever (CSF) ada kemiripan, virus ASF tidak terkait dengan virus CSF.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada umumnya, penyebaran ASF karena kontak langsung dengan babi liar atau babi lain yang terinfeksi. Konsumsi pakan yang terkontaminasi juga menjadi jalan penularan virus tersebut.
Namun, pada umumnya babi yang terinfeksi ASF mengalami demam tinggi, depresi, anoreksia dan kehilangan nafsu makan, perdarahan pada kulit (kemerahan pada telinga, perut dan kaki), sianosis, muntah, hingga diare.
[Gambas:Video CNN]
Babi yang terjangkit ASV biasanya mati 6-20 hari kemudian setelah terjangkit virus ASF. Berbagai jenis babi mungkin memiliki kerentanan berbeda terhadap infeksi virus tersebut.
Proses diagnosa babi terjangkit ASF harus dilakukan dengan tes laboratorium. Hal itu dilakukan untuk membedakannya dari CSF.
OIE menyampaikan belum ada vaksin bisa digunakan untuk mengatasi ASV. Namun, OIE mengimbau negara menerapkan kebijakan impor yang tepat dan langkah-langkah biosekuriti, memastikan bahwa tidak ada babi yang hidup maupun produk babi terjangkit ASF yang masuk ke dalam wilayahnya.
Untuk sektor peternakan, sanitasi dan pembuangan karkas hingga limbah yang layak adalah solusi guna mencegah penyebaran virus ke babi lain. Dia samping itu, deteksi dini dengan langsung membunuh babi yang terinfeksi dan langkah-langkah biosekuriti yang ketat menjadi hal yang juga menjadi perhatian.
Berdasarkan data, kasus babi terjangkit ASF terjadi di Asia, Eropa, dan Amerika.