Peneliti Ungkap Efek Parah Ulat Grayak Rusak Tanaman di NTT

CNN Indonesia | Kamis, 13/02/2020 06:45 WIB
Peneliti Ungkap Efek Parah Ulat Grayak Rusak Tanaman di NTT Hama ulat grayak. (Istockphoto/kochievmv)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti Sumber Daya pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Tony Basuki mengatakan tanaman jagung yang sudah terserang hama ulat grayak, umumnya sulit dipulihkan.

"Tanaman yang sudah terserang, umumnya sulit dipulihkan, karena hama telah menyerang titik tumbuh tanaman (pucuk bagian dalam)," kata Tony seperti dilaporkan Antara, Rabu (12/2).

Ia pun pesimis dengan tanaman jagung milik petani di NTT yang terserang hama ulat grayak atau Spodoptera Frugiperda itu bisa berproduksi kembali. Ribuan hektare tanaman jagung petani di Provinsi NTT dilaporkan terserang hama ulat grayak sejak Desember 2019.


Areal tanaman jagung paling banyak terserang hama ini di Kabupaten Flores Timur, yang mencapai hampir 5.000 hektare. Mengenai solusi, dia mengatakan, satu-satunya jalan keluar yang bisa dilakukan pemerintah adalah menyelamatkan tanaman yang belum terserang hama.


Dia mengatakan, pemerintah tidak menganjurkan petani untuk menanam ulang dengan menawarkan bantuan bibit, karena musim hujan tinggal 1,5 bulan lagi.

"Kalau sudah bulan Februari, tidak bisa tanam ulang karena hujan sudah tinggal 1,5 bulan. Jadi solusinya adalah prioritas pengendalian hama ini pada tanaman yang masih sehat, sehingga bisa berproduksi," katanya.

Berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB)

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Flores Timur Anton Wukak Sogen menilai bahwa serangan hama ulat grayak terhadap tanaman jagung milik petani di wilayah kabupaten bagian paling timur Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, itu termasuk kategori berat atau parah.

"Dari hasil identifikasi kami di lapangan ternyata setelah kami ambil sampel ditemukan dalam satu rumpun jagung hiduplah ulat grayak 3 hingga 4 ekor, ini sudah masuk kategori serangan berat," katanya.

Menurut dia, serangan hama tersebut sangat cepat dan saat ini sudah menyebar di 19 kecamatan sehingga pemerintah kabupaten setempat memutuskan untuk menetapkan status serangan hama itu sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

"Bayangkan saja dari 4.858 hektare tanaman yang terserang saat ini tentu akan butuh banyak sekali obat, sementara keuangan kami sangat terbatas," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Karena itu, pihaknya juga telah menyampaikan kepada para petani jagung agar pada kondisi tertentu dengan tingkat serangan hama yang sangat berat, dilakukan dengan aplikasi kimia atau penyemprotan.

Selain itu, melalui pemerintah desa, pihaknya juga mendorong upaya pengendalian dilakukan dengan pendekatan kearifan budaya lokal yakni ritual adat untuk mengusir hama karena tindakan dengan aplikasi kimia yang sangat terbatas.

Ritual Minta Hujan

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Mauritius Terwinyu da Cunha, mengemukakan masyarakat di sejumlah daerah setempat menggelar ritual adat untuk meminta hujan turun di salah satu kabupaten di Flores, NTT.

Dia menjelaskan wilayah-wilayah tersebut berada di bagian utara Sikka yang saat ini dilanda kekeringan yang dampaknya kondisi tanaman menjadi layu dan stres. Kekeringan itu, lanjutnya, juga mengakibatkan serangan hama ulat grayak menyebar dengan cepat dan merusak ribuan hektare tanaman milik petani setempat.

Mauritius menjelaskan berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah Sikka diguyur hujan pada dasarian II, yakni Desember 2019 hingga puncaknya pada Januari-Februari 2020. Namun prediksi itu meleset karena wilayah Flores masih kekeringan sampai saat ini.



Hama ulat grayak yang menyerang tanaman jagung di NTT saat ini merupakan spesies baru yang masuk Indonesia. Hama ulat grayak ini memiliki kemampuan menjelajah hingga radius 100 km, dan mampu bertahan hidup dalam waktu yang cukup lama.

Ulat Grayak tidak saja menyerang tanaman jagung, tetapi juga berpeluang menyerang tanaman pertanian lain seperti padi, sorgum, kacang-kacangan, tomat, cabai hingga buah jagung yang masih muda.

Hama tersebut mampu berkembangbiak sangat cepat, karena satu betina mampu menghasilkan 1.000 hingga 2.000 sekali masa bertelur.

Ulat grayak ini berasal dari Amerika Selatan dan di Indonesia selama ini hanya terjadi di Pulau Jawa. Khusus di NTT, baru ditemukan tahun ini, dan dalam jumlah besar di beberapa kabupaten.





(antara/DAL)