Pria bernama asli Syarul Hakim itu menjalani hari-harinya dengan mengajar di sekolah luar biasa (SLB) mulai pukul 7.30 pagi sampai 12 siang. Seusai mengajar ia lanjut 'narik' Grab.
Bang Calu sudah mengajar anak berkebutuhan khusus sejak 2015. Menjadi guru SLB memang merupakan cita-citanya semenjak kuliah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Suka dukanya luar biasa sekali. Kalau lari langsung keluar sekolah, harus kita jagain. Siswa meludahi. Ya kita terima dan ikhlas. Buat apa marah? Sebagai gurunya, kita ajarkan agar menjadi sopan. Kita ajarkan bermain gitar, talinya diputus pakai gunting. Drum robek, kita ganti. Mereka lupa, kita tetap mengajarnya," ujar Bang Calu, Senin (17/2).
"Gaji nggak seberapa, tetap disyukuri. Tapi kalau bisa cari rezeki tambahan, itu baik juga," tambahnya.
Kemudian ia memutuskan mencari pekerjaan sampingan yang waktu kerjanya fleksibel. Pada 2017, Bang Calu didaftarkan Grab oleh temannya. Waktu yang masih senggang selepas mengajar membuat Bang Calu pun ingin menggunakan waktu luang sebagai lahan mencari tambahan penghasilan.
"Sekarang modal motor sama hape, bisa beli motor lagi. Ganti motor untuk pelayanan lebih baik. Karena motor lama sudah sering diperbaiki," kenangnya.
Bagi Bang Calu, bekerja di Grab tak semata soal rupiah. Ia juga manfaatkan untuk memperluas pergaulan dan membangun solidaritas sesama mitra Grab di Makassar dengan mendirikan Komunitas Lintas Sudiang.
"Lumayan anggotanya sudah 100 lebih. Selalu berkoordinasi antarwilayah. Ada teman ngalong pas malam, mereka selalu share location," ujarnya.
Menurutnya, berkomunitas itu bisa menjadi penggerak untuk turun membantu teman yang membutuhkan pertolongan sekaligus menjunjung rasa persaudaraan.
"Yang tua kita hormati. Sesama muda menghargai supaya kita tidak terpecah belah. Seru sekali berkomunitas," pungkasnya. (fef)