Mantan Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto menyebut untuk mengukur paparan radiasi, Batan memakai satuan sievert (Sv). Misal, seseorang menerima radiasi 10.000 mikroSv maka selang beberapa minggu ia akan meninggal dunia.
Namun, menurut pria yang saat ini juga menjadi anggota Dewan Riset Nasional itu, jika seseorang menerima paparan radiasi hanya 1.000 mikro Sv maka potensi terjangkit penyakit kanker naik 5 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cs-137 adalah salah satu jenis zat radioaktif yang ditemukan di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan Sabtu (15/2) pekan lalu.
Ketua BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto menyebut semua jenis radioaktif jika paparan radiasinya rendah, maka tak terlalu berdampak besar.
Meski begitu jika dikaitkan dengan kasus di Perumahan Batan Indah, saat pertama kali ditemukan kadar radiasi hanya 200 mikroSv. Artinya, tidak berpotensi menimbulkan penyakit kanker.
"Ketika pertama kali ditemukan, besarnya sekitar 200 mikro Sv. Sekarang setelah di clean-up [dibersihkan] sudah 6 mikroSv," tegas Djarot.
Lewat akun Facebook pribadinya, Djarot membeberkan secara gamblang batas radiasi radioaktif yang berpotensi menimbulkan kanker. Dia menuliskan batas yang telah disepakati para ilmuwan ialah 100 mikroSv.
"Yang mulai berpotensi menjadi kanker adalah 100 mikro Sv. Tetapi komunitas nuklir sangat paranoid dan konservatif. Pekerja radiasi atau nuklir maksimal dalam setahun hanya boleh menerima dosis efektif rata-rata 20 mSv dan untk masyarakat jauh lebih rendah lagi, 1 mSv dalam setahun," kata Djarot.
Djarot pun sempat memberikan contoh lain terkait kemunculan zat radioaktif yang terjadi di Fukushima Daiichi, Jepang tahun 2011 dan Chernobyl Rusia tahun 1986.
[Gambas:Video CNN]
"Saya ambil contoh Fukushima yang datanya mudah diakses, sebagian besar wilayah yang dulu terkena paparan tinggi sudah clean-up, sehingga beberapa lokasi sudah bisa dihuni lagi," ucapnya.
"Karena rilis kontaminasi berasal dari PLTN, maka tidak hanya Cs-137, banyak zat radioaktif lain. Kalau Batan Indah hanya satu sumber saja Cs-137, tidak bisa dibandingkan antara kecelakaan PLTN Chernobyl dan Fukushima," pungkas Djarot. (din/eks)