Kulminasi atau transit atau istiwa' adalah fenomena ketika Matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit di suatu daerah. Saat Matahari berada di tepat di atas suatu daerah atau sama dengan lintang pengamat, fenomena ini disebut sebagai Kulminasi Utama.
Pada saat itu, Matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat "menghilang", karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. Karena itu, hari kulminasi utama dikenal juga sebagai hari tanpa bayangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kulminasi akan kembali terjadi di Indonesia mulai 6 September 2020 di Sabang, Aceh, yang jadi titik paling utara Indonesia. Kulminasi ini berlangsung hingga 21 Oktober 2020 di Baa, NTT yang ada di titik paling selatan Indonesia. Titik kulminasi akan terjadi bergantian di tiap kota sesuai dengan garis lintang masing-masing kota. Setiap tahun, tiap wilayah di muka Bumi bakal mengalami dua kali momen hari tanpa bayangan.
[Gambas:Video CNN]
Gerak ini terjadi karena titik rotasi bumi yang tidak tegak lurus terhadap Matahari. Sehingga, ketika Bumi bergerak mengelilingi Matahari, seolah-olah Matahari bergerak dari bagian utara dan selatan Bumi. Oleh karena itu gerakan ini disebut gerakan semu.
Gerakan semu tahunan inilah yang menyebabkan perubahan iklim di Bumi. Ketika Matahari berada di utara, maka Bumi bagian selatan akan mengalami musim dingin. Begitu juga sebaliknya, ketika Matahari di selatan, maka Bumi bagian utara akan mengalami musim dingin.
Saat pergerakan semu Matahari ini melewati daerah khatulistiwa, khususnya Indonesia. Maka pengamat bakal mengalami fenomena hari tanpa bayangan. Fenomena ini punya periode tertentu dan berbeda di tiap kota tergantung garis lintang kota tersebut. (eks)