"Kalau melihat rate penurunan tanah oleh penggunan air tanah (subsidence) dan kenaikan permukaan laut (sea level rise), (Jakarta) sangat mungkin (tenggelam)," ujar Intan kepada CNNIndonesia.com, Jumat (28/2).
Intan mengatakan dokumen Intergovernmental Panel on Climate Change menyebutkan rata-rata permukaan air laut global (global mean sea level/ GMSL) pasti meningkat dan semakin cepat. Dia berkata GSML akan naik antara 0,43 m (0,29-0,59 m, rentang kemungkinan) dan 0,84 m (0,61-1,10 m, rentang kemungkinan) pada tahun 2100.
Lebih lanjut, dokumen itu menyampaikan kenaikan permukaan laut secara global tidak seragam dan secara regional bervariasi. Namun, dia berkata situasi ekstrem akan membuat kota-kota kecil di dataran rendah dan pulau-pulau kecil diproyeksikan tenggelam lebih cepat pada tahun 2050.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait dengan hal itu, Intan menyampaikan pemerintah harus mengambil langkah untuk mengontrol penggunaan air tanah. Selain itu, dia menuampaikan perlu adanya strategi adaptasi terhadap kenaikan air laut baik di pesisir kota Jakarta maupun kepulauannya.
"Strategi tersebut dapat berupa kombinasi hard protection dan ecosystem-based approach, sistem early warning, worse case (skenario terburuk, lakukan) relokasi," ujar Intan.
Adapun soft protection adalah memanfaatkan sedimentasi hingga menambah ruang untuk eksosistem yang mampu melindungi kota agar tidak tenggelam.
[Gambas:Video CNN]
(jps/eks)