Rencana Produksi Mobil Hibrida Toyota di RI Belum Meleset

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Jumat, 06/03/2020 18:19 WIB
Mobil hybrid Toyota yang diproduksi di Karawang, Jawa Barat untuk pasar domestik Indonesia dan ekspor ke sejumlah negara. Ilustrasi mobil listrik Toyota. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Toyota Indonesia semakin menunjukkan keseriusannya dalam mengembangkan kendaraan ramah lingkungan di Indonesia. Target untuk memproduksi mobil hibrida di Karawang pun masih sesuai jadwal yaitu mulai 2022.

Selain merakit lokal mobil ramah lingkungan, perusahaan juga akan menambah pilihan kendaraan elektrifikasi lain seperti kendaraan elektrik baterai Battery Electric Vehicle (BEV) dan Plug-in Hybrid Vehicle (PHEV) sebagai upaya untuk menjangkau lebih banyak konsumen dalam negeri.

"Kami baru merampungkan bisnis plan-nya dulu tentunya akan dilanjutkan dengan persiapan lain," kata Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam kepada CNNIndonesia melalui pesan singkat, Jumat (6/3).


Menurut Bob, saat perusahaan tengah berupaya menyiapkan dari bagian hulu ke hilir agar strategi tepat sasaran, termasuk pengembangan sumber daya manusia (SDM) mulai jajaran produksi hingga tenaga penjualan agar siap menyambut industri kendaraan ramah lingkungan.

"Yang penting orangnya, SDMnya," ucap Bob.

Toyota menyebutkan mobil hybrid buatan Karawang, Jawa Barat tidak hanya untuk pasar domestik Indonesia, melainkan juga untuk memenuhi pasar ekspor. Tapi perusahaan belum menyebut negara mana saja yang menjadi destinasi ekspor mobil hibrida Toyota.

"Jadi pabriknya yang ada di Karawang," ucap Bob yang menjelaskan pihaknya baru memasarkan model hybrid C-HR dan Camry.

[Gambas:Video CNN]

Selain Toyota, sejumlah merek otomotif asal Jepang lain yang siap 'terjun' ke segmen mobil ramah lingkungan adalah Mitsubishi, Nissan dan Honda. Di samping itu merek otomotif China juga fokus pada untuk menghadirkan kendaraan bertenaga listrik dengan harga relatif terjangkau.

Ketertarikan perusahaan seiring dengan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) lebih masuk 'akal'. Cukai yang dimaksud disebut-sebut bisa menurunkan harga kendaraan berteknologi hybrid dan murni listrik yang rendah emisi. (ryh/mik)