Penelitian yang dilakukan departemen infeksi dan imunitas di Pusat Klinik Kesehatan Masyarakat Shanghai menyatakan obat malaria chloroquine tidak efektif mengobati pasien positif virus corona.
Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sudah membantah terkait hoaks obat chloroquine yang dapat menyembuhkan penyakit (covid-19). Dalam klarifikasinya, Kemenkominfo secara resmi mencabut keterangan yang merujuk pernyataan WHO pada Februari silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab laporan yang diterbitkan oleh Journal of Zhejiang University di China menunjukkan bahwa pasien yang meminum obat Hydroxychloroquine atau chloroquine tidak menunjukkan reaksi pemulihan. Namun, penelitian itu hanya melibatkan 30 pasien.
Infografis cara penularan virus corona. (Foto: CNN Indonesia/Fajrian) |
Dalam penelitian itu, peneliti bahkan menyatakan kondisi pasien yang diobati dengan hydroxychloroquine berkembang menjadi semakin parah selama penelitian.
Selain itu, empat pasien lain yang diberi chloroquine mengalami diare dan tanda-tanda kerusakan hati yang potensial.
Melansir NPR, Food and Drug Administration AS memperingatkan bahwa antusiasme bahwa Hydroxychloroquine dapat mengobati penderita COvid-19 terlalu premature. Sebab, studi klinis yang besar terhadap obat melawan COVID-19 baru saja dimulai. (jps/mik)
Infografis cara penularan virus corona. (Foto: CNN Indonesia/Fajrian)