Studi: Physical Distancing Belum Bisa Turunkan Polusi Jakarta

CNN Indonesia | Selasa, 31/03/2020 17:29 WIB
Studi soal kualitas udara Jakarta masih belum baik itu berdasarkan survei pada 16-25 Maret 2020 sejak kebijakan physical distancing imbas corona diterapkan. Ilustrasi polusi di Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) mengatakan kebijakan pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk melakukan physical distancing demi menekan pandemi virus corona Covid-19 selama lebih dari satu minggu belum dapat menurunkan polusi udara di ibu kota.

Studi yang dilakukan KPBB itu berdasarkan kajian mulai 16 hingga 25 Maret 2020 atau selama 10 hari kebijakan physical distancing diterapkan. Secara umum, kualitas udara pada periode tersebut masuk kategori Tidak Sehat yaitu dengan konsentrasi PM2.5 (rata-rata 44.55 µg/m3).

KPBB menggunakan data kualitas udara berdasarkan Ambient Air Quality Monitoring Station (Stasiun Pemantau Kualitas Udara Ambient/AAQMS) dan Roadside Air Quality Monitoring (Pemantauan Kulaitas Udara Pinggir Jalan) yang ditempatkan di lima titik yang merepresentasikan lima wilayah kota di Jakarta.


"Kami menggunakan data hasil pemantauan AAQMS US Embassy yang ditempatkan di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. AQMS Jakarta Pusat menunjukkan kondisi Tidak Sehat di sepanjang 2019, bahkan beberapa hari di antaranya dalam keadaan Sangat Tidak Sehat hingga berbahaya," dikutip dari keterangan rilis KPBB yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (31/3).


Studi KPBB menunjukkan bahwa rata-rata tahunan konsentrasi PM2.5 adalah 40.10 µg/m3 (2019) dan 25.78 µg/m3 (2020), atau bisa dibilang tahun 2019 lebih buruk kualitas udaranya dibanding awal tahun ini.

Sementara untuk kualitas udara rata-rata 16-25 Maret 2020 adalah 30.13 µg/m3 atau masih lebih tinggi dari rata-rata periode yang sama tahun 2019 yakni 14.99 µg/m3.

Lalu pada bulan Januari-Maret 2020 pencemaran udara dinilai lebih tinggi yaitu 25.78 µg/m3 dibanding periode yang sama tahun 2019 yaitu 24.48 µg/m3.

"Hal demikian biasa terjadi di awal-awal tahun yang senantiasa Jakarta memiliki kualitas udara yang relatif baik, namun seiring dengan mulai berkurangnya curah hujan pada bulan Maret dan memasuki musim kemarau bulan April maka kualitas udara berangsur memburuk hingga bulan Oktober atau November saat berakhirnya musim kemarau," tulis KPBB.

[Gambas:Video CNN]

Menyoal data AQMS Jakarta Selatan, sepanjang 2019 kualitas udara masuk kategori Tidak Sehat. Sebab, rata-rata tahunan konsentrasi PM2.5 adalah 52.10 µg/m3 (2019) dan 40.67 µg/m3 (2020).

Hal itu menunjukkan bahwa tahun 2019 pencemaran udara yang masih tinggi berimbas pada tahun ini, sekalipun sudah diterpa musim penghujan.

Sementara rata-rata konsentrasi wilayah Jakarta Selatan tanggal 16-25 Maret 2020 adalah 44.62 µg/m3 juga masih lebih tinggi dari rata-rata pada periode yang sama tahun 2019 yaitu 30.49 µg/m3.

"Berdasarkan data dari dua stasiun pemantauan kualitas udara, maka Air Quality Index (AQI) masih menunjukkan kategori Tidak Sehat, apabila diekstrapolasi ke seluruh wilayah DKI Jakarta maka kualitas udaranya berada pada kategori Tidak Sehat dengan rata-rata konsentrasi 44.55 µg/m3," tegas KPBB.

Meski begitu, ada perbedaan data yang ditunjukkan oleh Roadside Air Quality Monitoring. Dari lima titik pemantauan roadside pada 17-23 Maret 2020 dengan enam parameter yang diukur menunjukkan kecenderungan menurun tajam yaitu R2 0.029 (Jakarta Pusat) dan R2 0.0179 (Jakarta Selatan).

"Hal ini menunjukkan bahwa physical distancing memiliki efek yang positif dalam pengendalian pencemaran udara dan berpotensi meningkatkan kualitas udara Jakarta menjadi kategori Baik pada 5-10 hari ke depan," tulis KPBB.


Faktor Pencemaran Udara Ambient di Jakarta Masih Tinggi

Komite Penghapusan Bensin Bertimbel memetakan setidaknya ada 6 faktor mengapa pencemaran udara ambient Jakarta masih tinggi, berikut penjelasannya:

1. Total Suspended Particulate (TSP) dan particulate atau debu berukuran kurang dari 2.5 mikron (PM2.5) adalah sangat ringan, sehingga gaya gravitasi tidak begitu berpengaruh terhadap proses peluruhan parameter pencemaran TSP dan PM2.5 untuk mengendap ke permukaan tanah.

Sebab, TSP dan PM2.5 memerlukan waktu beberapa hari hingga mingguan untuk bisa luruh ke permukaan tanah.

2. Adanya exposure yang berasal dari industri di Jabodetabek yang tetap berproduksi sekalipun terjadi penurunan akibat physical distancing termasuk pabrik semen di kawasan Bogor.

3. Adanya fugitive air pollutant dari coal-fired power plant dan diesel power plant yang ada di Pulau Jawa terutama yang berada di sekitaran Cilegon dan Tangerang sesuai arah angin bulan Oktober-Maret 2020.

Senada dengan KPBB, Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu, kualitas udara Jakarta tergantung faktor cuaca. Misalnya, hujan dan arah angin yang menyapu polutan.

"Tergantung faktor cuaca, seperti hujan plus angin misalnya ini akan menyapu polutan. Maka dari itu air visual juga disandingkan dengan data cuaca dan kecepatan angin juga," kata Bondan saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (31/3).

4. Masih beroperasinya sebagian pabrikan di Jakarta di mana 33 persen energi pabrik masih menggunakan bahan bakar batu bara dan ada diindikasi 7.26 persen PM2.5 berasal dari pembakaran batu bara.

5. Ada loading atau unloading kapal-kapal di wilayah Pantura Jakarta terutama Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Batu Bara Marunda. Berdasarkan kabar yang diterima KPBB, kapal-kapal tersebut berbahan bakar Marine Fuel dengan kadar belerang di atas 10.000ppm yang menjadi pemicu pencemaran udara.

"Selama ini secara nasional kapal-kapal bertanggung jawab atas 7100 kematian per tahun akibat pencemaran udara di Indonesia tahun 2015 dan yang bersandar di Pantura Jakarta berkontribusi atas lebih dari 27 persen pada sumbangan emisi transportasi Jakarta," tulis KPBB.

6. Meningkatnya kecepatan kendaraan bermotor di Jabodetabek akibat penurunan kemacetan di jalan raya sebagai konsekuensi physical distancing dapat meningkatkan exposure road dust (debu jalanan).

Potensi paparan debu jalanan ini berkisar antara 3-100 gram/m2, tergantung pada kondisi bersih atau tidaknya jalan raya dari debu, pasir, tanah maupun lumpur serta material lain.


Temuan ini berbeda dengan studi yang dilakukan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Menurut LAPAN kualitas udara di wilayah Indonesia bagian barat, seperti Sumatra, Kalimantan, dan pulau Jawa, termasuk Jakarta jauh lebih bersih pada Maret 2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

LAPAN memaparkan perubahan kualitas udara terjadi di tengah penyebaran virus corona. Situasi yang sama juga terjadi di China dan Eropa di saat wabah virus covid-19 meluas.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto.

Ia bilang kualitas udara yang lebih bersih di wilayah Indonesia bagian barat termasuk Jakarta pada Maret tahun ini dibandingkan sebelumnya lantaran emisi gas buang transportasi dan industri berkurang drastis.

(din/DAL)