Produk Sanitasi Akan Terus Diborong Warga RI di Toko Online

CNN Indonesia | Kamis, 02/04/2020 05:07 WIB
Produk hand sanitizer dan tisu basah disebut akan semakin diborong oleh warga RI di toko online imbas virus corona yang semakin meluas. Ilustrasi hand sanitizer. (Istockphoto/matspersson0)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fenomena panic buying imbas virus corona yang semakin meluas di Indonesia ini tidak hanya terjadi pada pasar offline, namun juga pasar online, seperti website penjualan resmi, marketplace, dan social commerce.

Berdasarkan data perusahaan e-commerce enabler SIRCLO, produk kesehatan dan sanitasi seperti hand sanitizer, sabun tangan, tisu basah, dan vitamin mengalami kenaikan pembelian yang paling tinggi di bulan Februari.

Empat produk tersebut mengalami lonjakan pembelian lebih dari 100 persen dibandingkan penjualan bulan-bulan sebelumnya. Pada bulan Februari, produk hand sanitizer mengalami peningkatan pembelian tertinggi, sebesar 531 persen.


Menyusul di bawahnya produk sabun meningkat 304 persen, tisu basah 227 persen, dan produk kesehatan dan suplai vitamin sebesar 210 persen.


CEO dan Co-founder SIRCLO Brian Marshal mengatakan seiring dengan himbauan pembatasan fisik, toko online dapat terus mengalami lonjakan pengunjung dengan penjualan yang lebih tinggi lagi.

"Empat kategori produk sanitasi akan terus mengalami lonjakan permintaan dan penjualan," kata Brian lewat keterangan tertulis kepada CNNIndonesia.com, Rabu (1/4).

Menurut dia, hingga minggu ketiga Maret, penjualan tisu basah meningkat sebesar 587 persen, hand sanitizer sebesar 585 persen, sabun cuci 355 persen, dan produk vitamin mengalami peningkatan sebesar 242 persen.

"Di antara 4 produk high demand ini, tisu basah akan mengalami peningkatan tertinggi dalam bulan April dan seterusnya, sebesar 719,63 persen," kata Brian.

[Gambas:Video CNN]

Di samping itu, menurut prediksi SIRCLO, hand sanitizer juga diprediksi akan mengalami peningkatan sebesar 640,95 persen, diikuti oleh peningkatan penjualan oleh produk sabun tangan sebesar 440,26 persen serta produk vitamin sebesar 308,72 persen.

Brian kemudian menilai fenomena panic buying ini akan menyebabkan ketidakseimbangan jumlah distribusi stok, terutama untuk yang membutuhkan. Selama pandemi corona belum berakhir, masyarakat akan terus melakukan pembatasan fisik dan semakin bergantung pada toko online untuk memenuhi kebutuhan harian mereka.

Dengan demikian, faktor keberadaan digital atau online presence menjadi aspek bisnis yang lebih signifikan ke depannya.

"Sekarang merupakan saatnya para brand untuk meningkatkan online presence, agar tetap bisa memberikan nilai yang maksimal bagi para pelanggan," jelas Brian.

(dal/DAL)