Sistem imun ini menunjukkan kemampuan tubuh orang dewasa untuk melawan corona dan memulihkan diri dari infeksi. Tim peneliti menguji sampel darah dari pasien berjenis kelamin perempuan yang tertular corona dengan gejala sedang.
Penemuan yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine ini merupakan pertama kalinya peneliti dapat memetakan respons kekebalan tubuh terhadap penyakit baru tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami memiliki hasil yang dapat diverifikasi pada lebih banyak pasien dengan gejala sedang akibat corona. Sekarang kami dapat mengajukan pertanyaan: apa yang berbeda atau hilang pada orang dengan gejala parah [akibat corona]," ujar Kedzierska dilansir dari situs resmi University of Merlbourne.
Kedzierska mengatakan tim bisa menemukan imun yang mengarah pada keberhasilan dari pemulihan penyakit corona. Pemahaman dari pemulihan ini bisa menemukan vaksin yang efektif untuk penyakit corona.
[Gambas:Video CNN]
Manfaat Penemuan Imun
Kedzierska menjelaskan temuan ini memiliki dua manfaat. Pertama, temuan imun bisa membantu ahli virus mengembangkan vaksin. Pasalnya tujuan dari vaksinasi adalah untuk mereplikasi respons kekebalan alami tubuh terhadap virus.
Tim mengidentifikasi empat populasi sel kekebalan yang berbeda dalam darah pasien SARS-CoV-2 saat ia menjalani pemulihan. Kedzierska mengatakan hal ini sangat mirip dengan yang terlihat dari pasien influenza.
Meskipun membunuh ratusan ribu orang setiap tahun, vaksin efektif Influenza telah ditemukan.
Manfaat kedua adalah untuk melakukan penyaringan. Pengamat peneliti bisa membantu otoritas kesehatan membuat prediksi yang lebih baik dalam wabah penyakit di masa depan tentang siapa yang paling berisiko.
Dilansir dari Science Alert, mayoritas kematian akibat corona terjadi pada pasien yang berusia lebih lanjut atau memiliki riwayat penyakit bawaan, seperti jantung dan diabetes.
Di sisi lain, kasus corona pada anak-anak menunjukkan sedikit atau tanpa gejala. Kedzierska mengatakan diperlukan lebih banyak penelitian untuk mencari tahu alasannya, tetapi sistem kekebalan tubuh secara alami melambat seiring bertambahnya usia. (jnp/mik)