Bos Zoom Berusaha Merebut Kembali Kepercayaan Penggunanya

CNN Indonesia | Senin, 06/04/2020 11:47 WIB
Perusahaan Zoom telah menghentikan proyek pengembangan fitur agar fokus untuk mengatasi masalah privasi dan keamanan sejak banyak dikeluhkan penggunanya. Aplikasi Zoom banyak diminati sejak pandemi corona. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendiri dan CEO Zoom Eric Yuan mengakui aplikasi konferensi video Zoom memiliki masalah keamanan dan privasi. Menurutnya, perusahaan tengah mengupayakan untuk mengatasi hal tersebut.

Yuan mengatakan perusahaan telah menghentikan proyek pengembangan fitur agar fokus untuk mengatasi masalah privasi dan keamanan. Yuan mengaku penghentian pengembangan berlangsung selama 90 hari.

"Kami bergerak terlalu cepat, dan kami salah langkah. Kami telah mempelajari dan telah mengambil langkah untuk fokus pada privasi dan keamanan," ujar Yuan dalam sebuah wawancara melansir The Verge, Senin (6/4).


Yuan mengaku dalam tekanan mengetahui masalah yang terjadi dalam aplikasi Zoom. Sehingga dia merasa memiliki kewajiban untuk merebut kembali kepercayaan pengguna Zoom seperti awal kebijakan tetap di rumah saat pandemi Covid-19.

Berdasarkan data, Zoom mencatat kenaikan yang sangat signifikan dalam penggunaan aplikasi Zoom dampak dari kebijakan kerja dan belajar di rumah selama pandemi Covid-19. Dalam postingan blog 1 April 2020, Yuan mengatakan pengguna Zoom mencapai 200 juta pada bulan Maret 2020 atau naik dari 10 juta pada bulan Desember 2019.

Di tengah kenaikan pengguna, Zoom dihadapkan dengan berbagai persoalan, seperti kasus Zoombombing di mana pengguna yang tidak diundang masuk ke dalam rapat dan melakukan tindakan-tindakan tidak diinginkan.

[Gambas:Video CNN]

Sekolah di Kota New York Dilarang Pakai Zoom

Dampak dari itu membuat sekolah di Amerika Serikat, termasuk di Kota New York melarang penggunaan Zoom untuk belajar.

Departemen Pendidikan Kota New York telah melarang sejumlah sekolah menggunakan layanan konferensi video, Zoom karena masalah keamanan. Zoom ketahuan mengirim data pengguna ke salah satu perusahaan raksasa media sosial yaitu Facebook dan Zoombombing.

"Kami mengarahkan sejumlah sekolah untuk tidak menggunakan Zoom sesegera mungkin," kata Juru Bicara Departemen Pendidikan Kota New York, Danielle Filson kepada CNN.

"Ada banyak alternatif untuk melakukan pembelajaran jarak jauh dan kami membuat membuat keputusan ini (melarang untuk tidak menggunakan Zoom)," lanjut dia.

Sebagai alternatif, Filson menyarankan untuk menggunakan layanan konferensi video milik Microsoft yaitu Microsoft Teams.

Belakangan nama Zoom menjadi sorotan setelah sejumlah kerentanan keamanan data pengguna di aplikasi itu terungkap. Nama Zoom naik daun setelah pemberlakuan lockdown dan pembatasan jarak sosial (physical distancing) diberlakukan di sejumlah negara.

Warga yang tak bisa keluar rumah, bekerja, dan sekolah seperti biasa memanfaatkan aplikasi ini untuk melakukan panggilan video berkelompok (video conference). Pasalnya, Zoom bisa digunakan hingga 100 orang secara bersamaan.

Dalam beberapa pekan ini, beragam kelemahan keamanan aplikasi video call Zoom terungkap. Mulai dari berbagi data dengan Facebook, menyalahi keamanan privasi di Mac, berbagi data dengan LinkedIn, hingga layanan video call yang mudah diretas.

Aplikasi desktop Zoom pun penuh dengan bug keamanan, beberapa di antaranya berpotensi memungkinkan peretas mengambil alih komputer pengguna.

Meski begitu, Zoom telah menyingkirkan kode yang digunakan untuk berbagi data dengan Facebook bagi pengguna iOS.

Zoom juga telah memperketat bahasa yang digunakan dalam kebijakan privasi di aplikasinya. (din,jps/mik)