Edukasi & Fitur

Cara Menaklukkan 'Sports Car' Agar Terhindar dari Kecelakaan

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Senin, 06/04/2020 14:08 WIB
Cara Menaklukkan 'Sports Car' Agar Terhindar dari Kecelakaan Toyota Supra generasi terbaru. (Foto: Toyota)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mengemudi sports car yang punya kemampuan melesat tak sampai tiga detik untuk 0-100 km per jam tidak melulu berbicara keahlian seseorang. Bahaya atau kecelakaan hebat tetap dapat mengancam bila kita melupakan aspek non teknis lain.

Ini berkaca pada insiden kecelakaan Wakil Jaksa Agung Arminsyah. Ia tewas usai tabrakan dan mobilnya, Nissan Skyline GT-R terbakar di Tol Jagorawi KM 13 pada Sabtu (4/4) siang.

Dijelaskan Praktisi keselamatan berkendara Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu teknis mengemudi sports car berperforma meliputi berbagai hal yang intinya memahami karakter kendaraan agar lebih mudah dikendalikan pada berbagai situasi.


Karakter pertama ini soal paham akan tenaga dan kecepatan, kemudian akselerasi, serta handling mobil tersebut. Di samping itu pengemudi juga harus menguasai teknik pengereman, hingga pengoperasian fitur pada mobil.

Yang perlu diketahui cara mengemudi mobil sport dengan mobil-mobil penumpang pada umumnya benar-benar berbeda. Tidak bisa kita samakan mengemudi sports car dengan basis pengalaman mengemudi kendaraan pada umumnya. Sports car punya mesin bertenaga 'besar' sehingga mobil potensi menjadi liar jika pengemudi tak bisa mengendalikannya.

Namun mengaca Arminsyah, ia diketahui sebagai sosok yang mengerti dan paham betul soal teknis mengemudi mobil sport. Arminsyah ini memiliki latarbelakang sebagai penggiat olahraga balap mobil.

"Nah saya sangat yakin almarhum (Arminsyah) paham dan menguasai soal ini teknis mengemudi," kata Jusri kepada CNNIndonesia.com melalui telepon, Senin (6/4).

"Tapi fokus kesana (teknis mengemudi) kadang juga bisa lupa akan faktor non teknis. Jika begitu segala referensi yang kita miliki soal teknis akan gugur. Kemampuan, persepsi, logika bisa hilang karena step prilaku pada aspek non teknis itu dilupakan. Ini bisa menimpa siapa saja untuk urusan mengemudi," ungkap Jusri kemudian.

Kata Jusri faktor non teknis ini ketika pengemudi tak bisa mengendalikan emosi. Saking senangnya mengemudi sports car, adrenalin lantas memuncak dan kemudian rasa senang diperoleh. Saat itu juga kemampuan mengemudi seseorang menjadi 'rentan'.

Jusri melanjutkan mengemudi tanpa mengabaikan faktor non teknis ini menjadi penentu keberhasilan seseorang mengendalikan liarnya tenaga sports car pada berbagai kondisi jalan, baik trek lurus hingga menikung.

"Bahkan itu bisa terjadi kepada orang yang punya pengalaman sekalipun. Ini hal non teknis. Jadi saat sudah tau soal teknis, nah selanjutnya harus bisa kuasai diri kita khususnya aspek non teknikal itu yang merupakan kontrol diri," ucap Jusri.

Ia menambahkan kemungkinan sports car mengakomodir segala bentuk akselerasi yang diinginkan pengemudi. Namun di satu sisi pengemudi juga harus punya kemampuan, pengalaman, dan mengatur emosi dirinya sendiri.

"Artinya di sini kalau ingin maksimal. Selain kendaraan itu dituntut maksimal, pengemudi juga harus optimal," tutup Jusri. (ryh/mik)

[Gambas:Video CNN]