Ahli Ungkap Pengaruh Suhu Panas Terhadap Virus Corona di RI

CNN Indonesia | Selasa, 07/04/2020 11:07 WIB
LIPI merespons teori temperatur atau suhu dan kelembaban udara dapat mempengaruhi penyebaran virus corona di Indonesia. Ilustrasi suhu panas Indonesia. (CNN Indonesia/ Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sugiyono Saputra menyatakan temperatur atau suhu dan kelembaban udara dapat mempengaruhi penyebaran virus corona SARS-CoV-2. 

Menurutnya, analisis sebuah studi mengatakan ketahanan virus Covid-19 semakin berkurang dalam temperatur atau suhu panas dan kelembaban tinggi.
 
"Memang ada beberapa studi yang menyatakan bahwa temperatur dan kelembaban udara dapat mempengaruhi penyebaran Covid-19. Pernyataan tersebut merupakan hasil analisis dari jumlah penderita Covid-19 di berbagai negara yang dikaitkan dengan kondisi lingkungan setempat," ujar Sugiyono kepada CNNIndonesia.com, Senin (6/4).
 
Sugiyono menuturkan secara umum kasus Covid-19 saat ini terkonsentrasi di belahan bumi utara yang sedang mengalami musim dingin dengan temperatur di bawah 18 derajat celcius dan kelembaban kurang dari dari 9 g/m3.

Sehingga, dia berkata muncul dugaan bahwa virus corona baru tidak akan bertahan lama di daerah tropis yang memiliki suhu panas dan kelembapan tinggi.
 
Sugiyono juga mengatakan dalam studi menyebutkan ketahanan virus yang menurun akibat temperatur dan kelembaban yang tinggi secara otomatis membuat penyebaran diprediksi akan semakin melambat. 

Namun ia juga mengingatkan bahwa studi ini masih perlu dikaji lagi, terutama karena perkembangan terkait Covid-19 juga cepat berubah.
 
Lebih lanjut, Sugiyono mengatakan virus yang sudah masuk ke dalam tubuh tidak akan terpengaruh dengan temperatur dan kelembaban lingkungan. Dia mengatakan temperatur dan kelembaban tinggi hanya menurunkan ketahanan virus di luar tubuh.
 
"Ketika virus sudah di dalam tubuh dan ditularkan secara cepat lewat kontak langsung, faktor tersebut bisa saja tidak berpengaruh," ujarnya.


Di sisi lain, Sugiyono menyampaikan ruangan tertutup dan sirkulasi udara yang tidak baik dapat memperparah penyebaran virus Covid-19.

Faktor demografi pasien, kapasitas penanganan pasien, penanggulangan, dan karakteristik virus itu sendiri, yang mungkin sudah bisa beradaptasi dengan suhu yang lebih panas mempengaruhi ketahanan virus corona baru tersebut.
 
"Dari bukti sejauh ini, virus Covid-19 dapat ditularkan di semua area, termasuk daerah dengan cuaca panas dan lembab. Yang pasti, setelah ditetapkan pandemi oleh WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), Covid-19 bisa menyerang siapapun dan di mana pun, tidak memandang ras maupun letak geografisnya," ujar Sugiyono.
 
Penanggulangan Ketat

Sugiyono menuturkan semua pihak harus tetap intensif melakukan pencegahan penularan Covid-19. Dia tidak ingin meningkatnya temperatur di Indonesia membuat upaya penanggulangan pandemi tidak lagi dilakukan dengan baik.
 
"Bukan berarti pula kita akhirnya beranggapan bahwa di daerah tropis, seperti di Indonesia di mana suhu dan kelembapannya tinggi, SARS-CoV-2 tidak akan menyebar separah di China dan beberapa negara Eropa," ujar Sugiyono.

 
Dia menambahkan mitigasi Covid-19 harus dilakukan semaksimal mungkin hingga proses transmisi dapat diminimalkan atau dihentikan.
 
"Kita juga harus tetap waspada dan tetap mempraktikkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), kebersihan lingkungan, serta membatasi interaksi sosial atau kerumunan," ujarnya.

"Walaupun demikian, semoga saja prediksi itu benar sehingga pandemi ini pun akan cepat berakhir," pungkas Sugiyono. 

Studi tahap awal

Di sisi lain, studi yang saat ini menunjukkan pengaruh suhu panas dan kelembapan tinggi berpengaruh terhadap virus corona merupakan studi tahap awal yang belum melewati kajian sejawat (peer-review) sesama ilmuwan seperti kajian ilmiah yang sudah dipublikasikan pada umumnya.

Mengutip Washington Post, Direktur Program Iklim dan Kesehatan Columbia University's Mailman School of Public Health, Jeffrey Shaman mengatakan studi tentang bagaimana virus corona covid-19 punya karakter tersendiri di setiap lingkungan yang berbeda justru lebih bermanfaat dan berkembang.

Shaman menilai studi yang meneliti penyebaran corona dari sudut pandang suhu atau kelembapan tidak bisa memasukkan banyak sampel ke dalamnya.

"Studi (suhu) harus membutuhkan lebih banyak pengujian laboratorium. Bukti studi statistik tersebut belum meyakinkan saya. Ini bukan studi yang cerdas," kata Shaman.




(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]