Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro yakin dalam kurun waktu tersebut, BPPT bisa memproduksi massal alat ventilator portabel.
"BPPT telah buat ventilator mobile sudah diuji coba dokter dan kemenkes. Sehingga dalam waktu dua minggu bisa produksi besar, sehingga ia bantu pasien non ICU," ujar Bambang saat konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta, Senin (6/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tahu semua dengan banyak pasien dibutuhkan ventilator dengan jumlah besar. sambil menunggu ventilator dari luar kita juga buat ventilator dalam negeri. Tentu yang penting TKDN dari ventilator portabel hampir 100 persen," tutur Bambang.
Alat tes PCR (RDT IgG IgM) diketahui lebih akurat dibandingkan alat rapid test serologi atau antibodi (RDT Micro-chip). Alat tes ini akan menggunakan isolat RNA dari Balitbangkes Kementerian Kesehatan.
"Tidak waktu lama ini bisa dipakai. Dalam waktu kira-kira kurang 1 bulan, BPPT akan kembangkan mobile test kit berbasis PCR," kata Bambang.
Inovasi alat PCR portabel disebut Bambang bisa membantu agar pengecekan corona dengan metode PCR dilakukan di berbagai daerah. Selain itu, Bambang juga menargetkan BPPT untuk memproduksi 100 ribu alat rapid test dalam waktu satu hingga dua bulan ke depan.
Alat rapid test ini mampu memberikan hasil cepat dalam waktu sekitar 15 menit. Akan tetapi tingkat sensitivitas alat rapid test hanya 75 persen. Alat rapid test kedua digunakan untuk deteksi awal dengan cara mendeteksi antigen atau bagian virus corona yang masuk ke dalam tubuh manusia.
(jnp/dal)