Mereka merekonstruksi jalur evolusi awal virus SARS-CoV-2 pada manusia menggunakan teknik jaringan genetika dengan menganalisis awalnya ratusan genom virus.
Lalu para peneliti memetakan penyebaran virus corona melalui mutasinya, yang menciptakan garis keturunan virus yang berbeda. Mereka menilai bahwa infeksi pertama virus SARS-CoV-2 terjadi pada pertengahan September 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi mengungkapkan virus SARS-Cov-2 memiliki tiga varian dari kelompok garis keturunan yang terkait erat yang mereka beri label A, B, dan C.
Para peneliti menemukan bahwa jenis virus Covid-19 tipe A pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China. Sementara mutasi virus tipe A terlihat di Amerika Serikat dan sebagian besar virus ini juga ditemukan pada pasien positif corona dari Australia.
Varian virus corona tipe C ini menurut para peneliti lebih banyak ditemukan di Benua Eropa. Ada empat negara utama yang menjadi awal penyebaran virus di Eropa yaitu Perancis, Italia, Swedia, dan Inggris.
Meski begitu, Forster dan rekan-rekannya juga menemukan virus corona tipe C di Singapura, Hong Kong, dan Korea Selatan.
Hasil studi selanjutnya ialah virus tipe C yang bersarang di Italia sebetulnya berasal dari pasien positif Covid-19 asal Jerman yang pertama kali muncul pada 27 Januari 2020. Sebelumnya, banyak kalangan yang menilai bahwa wabah virus corona di Italia dibawa oleh 'cluster' Singapura.
Berdasarkan hasil studi tersebut, para peneliti berpendapat bahwa metode filogenetik (yang mempelajari soal hubungan evolusioner atau pola keturunan) ini dapat diterapkan pada sekuensing genom virus SARS-Cov-2 untuk membantu memprediksi perkembangan virus ini ke depannya.
"Analisis jaringan filogenetik memiliki potensi untuk membantu mengidentifikasi sumber infeksi Covid-19 yang tidak terekam, sehingga dapat menyebarkan infeksi lebih lanjut," ucap Forster.
Studi Forster dan tim ini bisa diakses melalui jurnal Phylogenetic Network Analysis of SARS-Cov-2 Genomes lewat situs PNAS (Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America).
Hingga saat ini tim peneliti telah memperluas analisisnya dengan melibatkan 1.001 genom virus. Sementara hasil ini perlu dilakukan penelitian lebih mendalam, Forster mengatakan penelitian terbaru menunjukkan bahwa infeksi pertama dan penyebaran Covid-19 antara manusia ke manusia terjadi antara pertengahan September dan awal Desember 2019. (din/mik)