Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain Wien Kusharyoto mengatakan bahwa potensi itu terjadi karena kemungkinan pada tahap deteksi dengan Real-Time Quantitative Reverse Transcription PCR (qRT-PCR) diperoleh hasil negatif palsu (false negative).
"Di Korea Selatan dan China terdapat kasus bahwa ada pasien yang sudah [dinyatakan] sembuh kemudian terdeteksi positif SARS-CoV-2 (Covid-19) kembali. Kemungkinan pada tahap deteksi dengan qRT-PCR diperoleh hasil negatif palsu (false negative)," ujar Wien kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Wien mengatakan pasien yang telah dinyatakan sembuh untuk tetap dipantau dalam jangka waktu tertentu. Sebab, dia mengatakan hal itu untuk memastikan pasien tersebut benar-benar bebas dari Covid-19.
Dalam jurnal berjudul 'Recurrence of positive SARS-CoV-2 RNA in COVID-19', peneliti mengatakan bahwa seorang pasien kembali dinyatakan positif setelah dua kali tes sebelumnya pada waktu berbeda dinyatakan negatif.
Dari hasil penelitian itu, peneliti menyarankan pasien yang sedang dalam pemulihan juga harus secara teratur diuji untuk penilaian infektivitas dan semua pasien yang pulang harus dikarantina di rumah selama setidaknya 14 hari.
"Tentu saja [Dilakukan penelitian lebih mendalam], termasuk untuk menjawab pertanyaan berapa lama proteksi terhadap virus tersebut bisa tetap terjaga setelah seseorang sembuh atau pernah terjangkit virusnya," tutup Wien. (jps/mik)