Sebab, dia menduga jumlah kasus Covid-19 yang dilaporkan oleh pemerintah saat ini sebanyak 5.136 kasus masih jauh dari yang diproyeksikan oleh epidemiolog.
"Memang saya setuju bahwa di Indonesia ada under detected, jadi data sesungguhnya yang terjadi di masyarakat atau di populasi memang belum terdeteksi. Artinya yang dilaporkan masih jauh dari apa yang epidemiolog proyeksi," ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Dicky mengatakan epidemiolog di London, Inggris, mengkalkulasikan setiap satu kematian terdapat 1.000 kasus positif COvid-19. Sehingga, dia mengatakan ada sekitar 496 ribu kasus di Indonesia jika mengacu pada data jumlah kematian di Indonesia sebanyak 469 kematian pada 15 April 2020.
Di sisi lain, Dicky mengatakan perbedaan jumlah kasus di Indonesia yang sangat besar dengan yang diproyeksikan oleh epidemiolog karena minimnya tes. Dia berkata cakupan tes di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara ASEAN.
"Kita hanya menang dari Bangladesh kalau tidak salah dalam posisi terakhir. Artinya kita masih jauh dari proporsi ideal," ujar Dicky.
Dicky menuturkan proporsi ideal tes Covid-19 di Indonesia adalah 1.000 tes per 1 juta penduduk. Jika tidak, dia mengatakan PSBB tidak akan signifikan. Sebab, dia berkata strategi utama penanganan pendemi adalah tes.
"Jadi tes itu sangat vital. Kemudian diikuti dengan pelacakan dengan kasus kontak. Ini pun penting sekali. Dan dua ini saja saya melihat belum maksimal dilakukan. Apalagi peta sebaran sudah ada di mana-mana," ujarnya.
Selain itu, Dicky menambahkan perawatan dan isolasi kasus Covid-19 sangat penting dalam strategi utama pendemi. Pencegahan bisa dilakukan jika tes, pelacakan, perawatan, dan isolasi sudah dilakukan.
"Kalau yang utama tidak dilakukan, kita akan sulit membuat kurva menjadi landai, akan naik terus," ujar Dicky.
Dicky mengakui jumlah kasus yang diduga tidak terdeteksi sejatinya tidak hanya terjadi di Indonesia. Dia mengatakan hal serupa juga terjadi di AS meski tidak sebesar yang terjadi di Indonesia.
Lebih dari itu, Dicky mendesak pemerintah pusat untuk segera membuat sinkron data dengan daerah. Sebab, dia berkata perbedaan data pusat dan daerah telah membuat kebingungan bagi epidemolog dalam membuat analisa.