Menurut Pandu, perubahan gaya hidup masyarakat yang paling sederhana adalah mencuci tangan, memakai masker, hingga menghindari kerumunan orang yang sangat padat.
Pernyataan Pandu ini menanggapi peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health yang memprediksi kebijakan batasan jarak fisik mesti diperpanjang hingga 2022 bila obat dan vaksin tak kunjung ditemukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan prediksi dari peneliti Harvard harus dipandang positif karena bisa membuat berbagai perubahan dari sisi kesehatan publik. Pemerintah harus mampu mempromosikan konsep kesehatan masyarakat.
Selain imbauan cuci tangan, memakai masker dan menghindari kerumunan, pemerintah juga harus berperan untuk melakukan rekayasa sosial dan infrastruktur untuk menghindari area padat.
Pandu mengatakan rekayasa sosial dan infrastruktur bisa dijadikan sebagai kebijakan pembangunan bagi seluruh pemerintah di seluruh dunia. Kebijakan dilakukan agar menjaga kesehatan masyarakat.
"Mungkin harus ada rekayasa sosial dan infrastruktur supaya masyarakat di padat penduduk itu dibangun apartemen atau rumah susun. Setiap infrastruktur bangunan rumah harus ada ventilasi yang selama ini bagian kesehatan dilupakan." kata Pandu.
Sebelumnya, gabungan peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health memprediksi kebijakan physical distancing (jaga jarak fisik) mesti diperpanjang hingga 2022 sebab sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang tersedia untuk mengobati pasien Covid-19.
"Kebijakan jaga jarak kemungkinan perlu dilakukan hingga 2022, kecuali sudah ada pengobatan dan vaksin yang tersedia untuk mengobati pasien Covid-19," kata salah satu peneliti Marc Lipsitch kepada jurnalis CNN. (jnp/mik)