Namun, dia berkata tidak semua virus pada kelelawar bisa menginfeksi manusia. Hanya jenis alpha dan beta yang mampu menginfeksi manusia.
"Sejauh ini, alpha dan beta yang mampu menginfeksi manusia," ujar Tri kepada CNNIndonesia.com, Jumat (17/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, Tri menyampaikan analisis genetik digunakan untuk melihat kesamaan atau homologi virus kelelawar satu dengan lainnya. Dalam mekanisme itu, virus yang ditemukan bisa masuk satu cluster tertentu tergantung dari sekuens atau urutan genom dari virus tersebut.
"Sama seperti di Indonesia, yang ditemukan di Myanmar masuk ke dalam kelompok alphacoronavirus dan betacoronavirus," ujar Tri.
Sampel-sampel itu mereka dapatkan dari tiga lokasi yang mana manusia berinteraksi dekat dengan kelelawar.
Berdasarkan hasil studi, virus corona baru ditemukan di tiga spesies kelelawar yaitu Scotophilus heathii, Chaerephon plicatus, dan Hipposideros larvatus. Sementara nama-nama virus corona baru sesuai urutan spesies ialah PREDICT-Cov-90, PREDICT-Cov-47 dan 82, lalu PREDICT-Cov-92, 93, dan 96.
"Banyak virus corona baru yang kemungkinan tidak terlalu berisiko bagi manusia, maka kami akan mengindetifikasi lebih lanjut untuk menyelidiki potensi ancaman virus-virus ini," kata Director of The Smithsonian's Global Health, Suzan Murray.
Pada bagian atas jurnal ilmiah itu, tertulis 'Peer-Reviewed' yang memiliki maksud karya ilmiah telah diulas oleh rekan sejawat atau pakar di bidang kajian yang sama sebelum layak untuk dipublikasikan. (jps/mik)