Krisis dan tantangan ini mengharuskan Grab mengeluarkan keputusan sulit untuk memotong pengeluaran dan mengelola modal. Pandemi Covid-19 membuat pemesanan layanan taksi dan ojek online Grab di Asia Tenggara menurun drastis karena penerapan pembatasan aktivitas warga di luar rumah.
"Covid-19 adalah krisis tunggal terbesar yang mempengaruhi Grab dalam delapan tahun keberadaan kami. Pandemi ini memiliki dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya pada operasi kami, bisnis kami dan mata pencaharian mitra kami," ujar Tan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari South Morning China Post, pada Februari, Grab mengumpulkan lebih dari US$850 juta atau sekitar Rp13,2 triliun sebagai modal untuk melakukan ekspansi di berbagai wilayah di Asia Tenggara tersebut.
Dilansir dari The Star, Tan mengatakan Grab akan memutar otak untuk memotong pengeluaran dan mengelola di tengah wabah corona.
"Kami akan mengukur biaya dengan tepat, mengelola modal kami secara efisien, dan melakukan penyesuaian operasional yang diperlukan untuk mengatasi badai dan mengukir jalan menuju profitabilitas," kata Tan. (jnp/mik)