Ketua Umum APJII Jamalul Izza mengatakan Covid-19 menurunkan pendapatan perusahaan penyedia jasa internet (internet service provider/ ISP) di Indonesia karena banyak hotel dan kantor berhenti operasi akibat wabah Covid-19.
"Kami meminta relaksasi BHP/ USO atau Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNB). Kami minta Kemenkominfo untuk penundaan pembayaran USO dan relaksasi BNPB," kata Jamalul dalam konferensi pers bersama MarkPus, Selasa (21/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"WFH orang melihat pendapatan industri [secara C2C/retail] banyak yang naik karena WFH traffic naik 10 sampai 15 persen, tapi kalau kita lihat di dunia korporat [B2B] itu banyak terjadi penurunan. Karena hotel dan perkantoran banyak yang tutup," ujar Jamalul.
"Jadi dengan kondisi seperti ini, internet akan dijadikan target efisiensi. Ada pemutusan kontrak internet dengan pihak ketiga," kata Jamalul.
Di tengah pandemi Covid-19 ini, banyak perkantoran yang tutup. Mengalihkan aktivitas pekerjaan di rumah masing-masing karyawannya. Hotel juga demikian, tingkat okupansi yang rendah membuat pendapatan hotel turun drastis.
Jamalul menjelaskan praktis bagi perusahaan ISP yang menyasar segmen B2B mengalami penurunan trafik yang signifikan.
"Perlu diketahui, lebih dari 50 persen dari anggota APJII, bisnis mereka bertumpu di sektor B2B. Melayani korporasi seperti perkantoran dan hotel. Jadi, tidak ada kata industri kami ini diuntungkan dari pandemi Covid-19. Itu adalah persepsi yang salah," ujar Jamalul.
Ketua Umum Apjatel, Muhammad Arif Angga dalam suratnya kepada Menkominfo Johnny G. Plate, mengakui ada pertumbuhan signifikan dari trafik layanan dan pelanggan ritel baru. Efeknya, operator juga perlu membarui beberapa layanan dan hal itu berdampak pada biaya produksi.
"Dalam peningkatan jumlah pelanggan baru, sekilas akan terlihat market meningkat, tapi sebagai penyelenggara jaringan, sekecil apa pun kita mendapatkan pelanggan, tentu ada biaya Capex (capital expenditure/belanja modal) yang kami keluarkan, terutama investasi kabel dan perangkat aktifnya," katanya.
Dalam kesempatan yang sama Johnny mengakui terjadi penurunan pendapatan ISP yang fokus ke sektor perusahaan.
"Jalan satu-satunya dengan menyesuaikan layanan dengan daya beli sembari melakukan cost effective. Suka tidak suka efisiensi harus dilakukan," kata Johnny.