Cerita Dahlan Iskan soal Milenial 'Nakal' Buat Situs Covid-19

CNN Indonesia | Rabu, 22/04/2020 07:28 WIB
Pengendara melintas di depan mural tentang pandemi virus corona atau COVID-19 di kawasan Jati Raya, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (7/4/2020). Mural tersebut bertujuan untuk media edukasi kepada warga agar waspada potensi penyebaran virus corona atau COVID-19. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/foc. Ilustrasi Covid-19. (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan mengklaim Ahmad Alghozi Ramadhan merupakan milenial sejati karena tidak memikirkan proyek senilai triliunan rupiah seperti yang dikerjakan Staf Khusus milenial Presiden Joko Widodo.

Menurutnya, Alghozi layak menjadi milenial sejati karena menciptakan aplikasi pelacakan Covid-19 tanpa mengharapkan bayaran dan jabatan. 

"Inilah milenial sejati yang tidak memikirkan proyek Rp4,6 triliun sama sekali: Ahmad Alghozi. Ia menciptakan aplikasi untuk diabdikan kepada negeri: tracking Covid-19 masa kini," ujar Dahlan dalam blog pribadinya, Selasa (21/4).


Dahlan menceritakan Alghozi tidak tidur selama lima hari lima malam untuk menyelesaikan aplikasi yang bernama FightCovid19.id. Selain tak peduli dengan kesehatannya, Alghozi disebut tidak peduli ketika perusahaannya memotong 50 persen gajinya.

Dahlan mengatakan Alghozi berinisiatif membuat aplikasi FightCovid19.id karena mendengar kabar Covid-19 telah membuat dokter meninggal dunia. Tak hanya itu, inisiatif membuat aplikasi muncul ketika prihatin dengan penampilan data Covid-19 yang disiarkan di televisi amat tradisional.

"Ia ingin menciptakan aplikasi dalam bentuk peta dan data. Yang petanya bisa diklik. Lalu muncul data di balik peta," ujarnya.

Setelah berhasil menciptakan aplikasi tersebut, Alghozi sempat menawarkannya kepada banyak pihak. Namun, Dahlan berkata tidak ada yang merespon tawaran aplikasi dari Alghozi.

"Semua pihak rupanya sibuk dengan penanggulangan. Bukan pencegahan. Tapi dari jerih payah memasarkan aplikasinya itu muncul ide penyempurnaan: tracking. Rupanya ia menemukan kenyataan di lapangan: tracking lebih penting dari peta dan data," ujar Dahlan.

Setelah penyempurnaan dilakukan, Dahlan berkata aplikasi buatan Alghozi akhirnya digunakan oleh provinsi Bangka Belitung. Salah satu tokoh yang sangat peduli IT di Bangka, yakni Saparudin mempertemukan aplikasi buatan Ahmad kepada Bangka Belitung.

Saparudin adalah orang Bangka Belitung yang memperoleh gelar master di ITB dan doktor di Universiti Teknologi Malaysia. Dia berkata saat memperkenalkan pertama kali aplikasi Ahmad, Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Roesman langsung tertarik

"Bahkan beliau langsung ingin mendengar sendiri pemaparan dari Alghozi," ujar Dahlan menirukan pernyataan Saparudin.

Di sisi lain, Dahlan membeberkan aplikasi buatan Alghozi dapat mengontrol siapapun yang datang ke Bangka Belitung, termasuk mereka yang masuk melalui jalur udara atau laut. 

Misalnya, penumpang pesawat yang turun di Pangkal Pinang (Bangka) maupun di Tanjung Pandan (Belitung) dipasangi gelang elektronik dan harus mengunduh aplikasi FightCovid19.id.

Setelah itu, penumpang diminta untuk mengisi segala pertanyaan yang ada di dalam aplikasi, termasuk nomor ponsel dan alamat email.

"Selesai mengisi semua itu penumpang mendapat kiriman kode lewat email. Dengan kode itu penumpang melaporkan kondisi kesehatan mereka. Termasuk suhu badan hasil pemeriksaan di bandara itu," ujarnya.

Dahlan berkata aplikasi buatan Alghozi terhubung dengan gelang elektronik. Hal itu membuat petugas di pusat data di BNPB Provinsi Babel bisa mengetahui ke mana saja si pemakai gelang.

"Kalau pemakai gelang itu meninggalkan rumah layar monitor di BNPB berubah warna: oranye. Maka petugas BNPB. menghubunginya: untuk apa meninggalkan rumah. "Ada yang bilang ke rumah orang tua. Ada juga yang mengatakan belanja," ujar Dahlan menirukan pernyataan Saparudin

Dahlan mengklaim sejauh ini tidak ada yang membangkang perintah yang ditetapkan oleh pemerintah Babel. Sebab, dia berkata masyarakat Babel sadar akan menerima sanksi jika melanggar akan dikenakan sanksi.

Namun, Dahlan berkata sudah ada satu orang di Babel yang diisolasi. Bukan karena positif, dia berkata isolasi diterapkan kepada orang itu karena mencela program pelacakan pemerintah Babel di Facebook.

"Ia pun diisolasi tiga hari," ujar Dahlan.

Selain untuk pelacakan, pemakai gelang bisa meminta bantuan BNPB, misalnya ketika merasakan tanda-tanda sakit. Pengguna gelang hanya klik satu tanda di aplikasi buatan Alghozi di ponselnya.

"Ia bisa dijemput ambulans oleh BNPB," ujarnya.

Dahlan menilai aplikasi buatan Alghozi jauh lebih bermanfaat dari yang sudah diluncurkan. Bahkan, dia mengaku sejumlah temannya takut menggunakan aplikasi buatan pusat karena khawatir dengan keamanan rekening bank mereka.

Dahlan menambahkan Alghozi adalah anak yang nakal karena 'anak nakal' yang selama kuliah sudah mencari uang sendiri dengan menjadi pengemudi ojek online hingga berjualan donat. Apa yang dilakukan oleh Alghozi, kata Dahlan, tidak diketahui sama sekali orang tuanya.

Lebih dari itu, Dahlan saat ini bekerja di sebuah perusahaan swasta dengan posisi di bidang IT.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, aplikasi FightCovid19.id memiliki fitur diagsosis mandiri. Dalam apliaksi itu, juga terdapat fitur data jumlah kasus, rumah sakit rujukan, dan informasi mengenai Covid-19.

Adapun aplikasi PeduliLindungi yang dibuat pemerintah memiliki dapat mengidentifikasi orang-orang yang pernah berada dalam jarak dekat dengan orang yang dinyatakan positif COVID-19 atau PDP (Pasien Dalam Pengawasan) dan ODP (Orang Dalam Pemantauan).

Namun aplikasi itu bisa mengidentifikasi jika orang positif atau PDP dan orang sehat menggunakan aplikasi serupa dan menyalakan Bluetooth. Aplikasi akan memberikan notifikasi ketika diketahui ada pasien positif atau PDP dalam jarak tertentu.

(jps/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK