Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto pun memastikan kenaikan suhu bukan merupakan efek dari teknologi modifikasi cuaca yang diterapkan awal tahun 2020.
"Tidak ada (efek dari teknologi modifikasi cuaca). Ini hal normal terjadi jelang musim kemarau," kata Siswanto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (24/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara bagi masyarakat yang tinggal di Semarang, Jawa Tengah kata Siswanto ada sedikit perbedaan pola kenaikan suhu panas secara gradual (sedikit demi sedikit atau bertingkat).
"Suhu maksimum (siang hari) di Semarang agak berbeda sedikit polanya, di mana secara gradual naik mulai April hingga puncaknya di September-Oktober nanti," tutur Siswanto.
Suhu dan kelembaban tinggi ini terutama terjadi pada kondisi langit cerah dan kurangnya awan. Sebab, pancaran sinar matahari langsung lebih banyak diteruskan ke permukaan Bumi.
"Namun fenomena suhu udara tinggi yang terjadi saat ini tampaknya lebih dikontrol oleh pengaruh posisi gerak semu matahari dan mulai bertiupnya angin monsun kering dari benua Australia," tulis Deputi Bidang Klimatologi, Herizal dikutip dari keterangan rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (23/4).
Perubahan musim ini berdampak pada kurangnya tutupan awan di atas wilayah Indonesia, sehingga sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa adanya penghalang awan. (din/eks)