[Gambas:Twitter]
Pada kenyataannya cahaya yang secara optik terlihat cincin ini tak hanya terjadi di Matahari, tapi juga di Bulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Efek prisma dari cahaya yang melewati kristal es enam sisi ini juga memisahkan cahaya menjadi berbagai frekuensi warnanya. Hal ini membuat Halo terlihat seperti pelangi, dengan merah di bagian dalam dan biru di bagian luar.
[Gambas:Twitter]
Di Indonesia sendiri, Halo Matahari dikenal dengan nama 'Matahari Kalangan'.
[Gambas:Twitter]
Dilansir dari Earthsky, dari dulu memang ada pepatah kuno bahwa keberadaan cincin di bulan dan matahari menandakan akan terjadi hujan. Pepatah ini benar karena awan cirrus yang berada sangat tinggi sering datang sebelum badai.
Fenomena Halo ini terjadi ketika awan cirrus tipis melayang setinggi lebih dari 20 ribu kaki atau sekitar 6 kilometer dari Bumi.
Awan-awan ini mengandung jutaan kristal es kecil. Lingkaran cahaya yang terlihat disebabkan oleh pembiasan, atau pemisahan cahaya, dan juga oleh pantulan, atau kilatan cahaya dari kristal-kristal es ini.