Terkait dengan isu tersebut, ia menyebut keputusan penutupan ini adalah hasil kesepakatan seluruh pemegang saham yang ingin konsentrasi pada bisnis inti mereka.
"Keputusan likuidasi adalah keputusan pemegang saham. Dugaan saya karena pemegang saham ingin konsentrasi pada core business-nya dalam situasi sulit saat ini," tulisnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (28/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bisnis inti Singtel sebagai penyedia layanan telekomunikasi di Singapura. Sementara Sony Picture dan Warner Bros punya bisnis inti di industri perfilman.
"Pemegang saham HOOQ sdh melakukan filing di Singapore untuk voluntary liquidation HOOQ pada 27 Maret. Sejak saat itu charging sudah tidak diberlakukan lagi bagi pelanggan existing dan sudah tidak ada aktivasi pelanggan baru,"
[Gambas:Twitter]
Cuitan ini lantas dibalas dengan sesal dari para pengguna HOOQ. Mereka menyayangkan penutupan lantaran mereka masih menonton film serial di platform tersebut seperti Brata dan Cek Toko Sebelah.
[Gambas:Twitter]
[Gambas:Twitter]
Lihat juga:YLKI: Blokir Netflix, Telkom Bisa Dituntut |
[Gambas:Twitter]
[Gambas:Twitter]
Pada awal April, HOOQ mulai memberitahukan kepada pelanggan kalau mereka hanya bisa berlangganan harian.
[Gambas:Twitter]
Sebelumnya, Perusahaan layanan streaming Iflix yang berpusat di Malaysia pun mengonfirmasi merumahkan 65 karyawannya karena krisis wabah virus corona Covid-19 dan jatuh tempo pembayaran utang. (eks)